STOP SMOKING

rokok

STOP SMOKING !!!!!

      Ya… mungkin ini adalah sebuah jargon yang sering kita dengar. Rokok sudah menjadi masalah yang sangat urgen di kalangan warga kita.  Ada masalah yang lebih penting jika hanya berbicara tentang untung dan rugi dari barang tersebut. Beberapa hari lalu, ketika mengikuti liqo, sempat saya dan teman-teman liqo bicara masalah rokok. Dari sini saya tergugah untuk sedikit memberikan tulisan.

      Kalau bicara rokok, mungkin kita akan menggunakan banyak dalil untuk mengharamkan dan menghalalkannnya. Mari kita tinggalkan pembahasan tentang halal dan haramnya. Alangkah lebih bagus kalau kita memandang masalah ini dari kacamata yang berbeda. Sebagai seorang tenaga pendidik, saya akan mengajak teman-teman untuk melihat hal ini dari sudut pandang matematika.

      Penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta jiwa, 50% adalah pria. Anggaplah Jumlah Pria adalah 100 juta jiwa. 50% nya adalah perokok aktif atau sebut saja 50 jutanya adalah perokok. Mari kita kalkulasikan besarnya uang yang di keluarkan oleh masyarakat kita dalam satu hari hanya untuk sebungkus rokok. Namun sebelum itu, saya kasi rumusnya dulu neh. Jumlah perokok aktif X harga sebungkus rokok. Gampangkan rumusnya.oke lanjut yuk !!!!

50.000.000 X 10.000 = 500.000.000.000. 50 juta di atas adalah jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan 10 ribu adalah harga sebungkus rokok.Jadi satu hari, masyarakat Indonesia  mengeluarkan dana atau membuang uang sebesar 500 milyar rupiah per hari hanya untuk sebungkus rokok

.      Mari kita hitung juga jika 500 milyar ini di kalikan dengan 1 bulan. 500.000.000.000 X 30 = 15.000.000.000.000 (banyak sekali 0 nya ). Sudah berapa milyar tuh ??? Kalau tidak salah 1500 triliun.Mohon dikoreksi kalau salah.Maklum banyak banget nol nya. He….he….!!!

     Bayangkan teman-teman, dalam 1 bulan kita menghabisakan 1500 triliun hanya untuk sebungkus rokok saja. bagaimana kalau dalam 1 tahun. 15.000.000.000.000 X 12 =180.000.000.000.000. Dalam satu tahun negara kehilangan 18.000 triliun. Luar biasa teman-teman sekalin, dalam satu tahun kita mengeluarkan uang sebanyak 18.000 triliun rupiah hanya untuk rokok saja. Mari kita liat utang Indonesia. Berdasarkan data dari liputan6.com, utang Indonesia sudah mencapai 3271,82 triliun per maret 2016. Wouw, dengan 18.000 triliun rupiah utang Indonesia bisa lunas dalam jangka waktu tidak sampai satu tahun.

      Anggaplah ini pemikiran orang awam gengs, seandainya uang yang kita keuarkan ini kita simpan dan setiap tahun kita setor untuk membayar utang Indonesia,maka kita tidak perlu negara untuk membayar utangnya. Cukup masyarakatnya yang turun tangan. Dan jika 18.000 triliun ini kita sudah gunakan untuk membayar utang Indonesia, masih ada sisa banyak untuk kita gunakan kepada hal-hal lainnya. Misalnya dengan 18.000 triliun, semua jalan raya bisa masuk ke desa. Dengan 18.000 triliun setiap warga Negara Indonesia bisa mempunyai satu apartemen. Dengan 18.000 triliun, setiap anak bangsa bisa melanjutkan sekolah sampai S3 dengan gratis.

Luar biasa bukan gengs ???

      Penjelasan di atas berbicara mengenai masalah Nasional. Nah mari kita berbicara mengenai daerah yang kita cintai. Fakfak !!! yap, kita berbicara masalah Fakfak tentunya. Fakfak memiliki pendudukan sekitar 60.000 jiwa ( sensus tahun 2010). Anggap saja 50 % adalah pria atau sekitar 30.000 jiwa. 50 % adalah perokok aktif, sebut saja 15.000 jiwa.

Mari kita kalkulasikan.

     15.000 X 10.000 = 150.000.0000. Jadi sehari saja masyarakat Fakfak mengeluarkan uang sebesar 150.000.000 untuk sebungkus rokok. Nah bagaiamana jika sebulan??? 150.000.000 X 30 = Rp. 4.500.000.000. kalau setahun ?? teman-teman hitung aja sendiri. Setahun sekitar 54.000.000.000 ( 50 milyar lebih ) kita megeluarkan uang.

     Bayangkan teman-teman. Dengan uang ini kita, setiap sekolah di fakfak dari kota sampung ke kampong bisa kita buat tingkat 5. Jalan masuk ke desa bisa di beton. Bahkan bisa di jembatan penghubung yang menghubungi distrik Fakfak dan distrik Fakfak Tengah. Perlu teman-teman tau, data di atas masih menggunakan data lama.

Faktanya adalah:

  1. Penduduk Indonesia berjumlah 200 juta, ini adalah data yang saya ambil dari penggalan lagu Roma Irama yang di nyanyikan tahun 80an.artinya ini data tahun 80an.
  2. Harga sebatang rokok pun saya ambil yang termurah atau bisa di kelaskan dengan rokok gudang garam merah.bagaimana jika dengan rokok surya 1
  3. Data di atas hanya mengambil jumlah perokok aktif pria.dan belum di masukan perokok wanita.
  4. Dan yang paling penting, data di atas menggunakan satu bungkus rokok.bagaimana jika komsumsi rokok perhari adalah 2 bungkus.

   Dan yang terakhir mungkin ada bahasa, “merokok pake uang saya, kok kamu yang repot”. Oke, setidaknya jika tidak bisa stop merugikan diri kita sendiri, maka kita harus stop merugikan orang lain. Menjauh lah dari keluarga, sahabat, anak dan orang-orang di sekitar kita ketika merokok.

 September, 30,2016

Baqi Ar Rijal

Iklan

Propos minggu ini

Selamat hari sabtu terakhir dibulan september ceria 😊😊😊

Yuuk kenalan langsung dengan propos kece ini.Mustika wati hartaty itulah namanya,biasa juga di panggil tika.Cewe yang hobinya memasak ini adalah orang yang super…super update( iya…..update statusnya di media sosial 😜😜😜).Dia juga pernah terlibat di beberapa kegiatan sosial,sebut saja kegiatan fakfak fair di tahun 2013,kelas inspirasi dan festival inspirasi fakfak di tahun 2015.Saat ini dia juga menjadi tenaga pengajar di salah satu sekolah dasar yang ada di kabupaten fakfak.tika

Berbagi….

Bismillah…..

Hhhmmmm….”berbagi”???!!!!Berbagi adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan akan tetapi sangat sulit untuk dibuktikan dengan perbuatan. Berbagi…bisa tentang apa saja. Bisa berbagi pengalaman, bisa berbagi barang, bisa berbagi cerita, bisa berbagi duit (yakin…nggak akan nyesal dikemudian hari???), bisa berbagi senyuman, bisa berbagi kebahagiaan dan juga bisa berbagi ilmu.

Guys, tau tidak, dengan berbagi seseorang tidak akan menjadi miskin atau berkurang dengan apa yang telah dibaginya. Selain mendapatkan pahala, berbagi dianjurkan dalam semua kepercayaan agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sedekah tidaklah mengurangi harta“.Ya…harta kita memang berkurang akan tetapi kekurangan tadi akan ditutup oleh Allah swt dengan mendapatkan keberkahan pahala. Berbagi tidak perlu dengan barang yang mewah atau wah! Berbagi hanya perlu satu hal penting, yaitu ikhlas. Tanpa ikhlas, berbagi itu tak ada gunanya bahkan terkesan sia-sia.

Apakah dalam hati anda telah ikhlas ketika berbagi ke sesama manusia? Dan apakah kita termasuk dalam orang-orang yang ikhlas tersebut? Tentu jawabannya hanya kita dan Tuhan  saja yang tau. Sampaikan walau itu hanya satu ayat. Semoga apa telah saya tulis pada halaman ini bisa mengingatkan kembali para pembaca agar selalu berbagi dengan orang-orang di sekitar anda dengan ikhlas.

Wassalam…..

September, 23, 2016

S. Alie

Profil Propos Minggu Ini

Hi! Sahabat Positivers

Maaf mimin telat upload profil Propos. Tapi tenaaaang propos satu ini gak kalah kece dengan Propos2 yg sudah lebih dulu mimin kenalin. Langsung aja yaaa

Kali ini mimin mw kenalin salah satu propos yg rada “pecicilan” tp kece anaknya. Dia adalah Haridin La Abukena, panggilannya aja Idin. Doi sekarang ini berstatus sebagai mahasiswa baru jurusan arsitektur di salah satu Universitas Swasta di Kota Yogyakarta. Walopun rada “Pecicilan” tp doi sudah aktif berorganisasi dari SMA looh, Si Doi pernah menjabat sebagai ketua OSIS waktu SMA. Doi juga pernah tergabung dalam Marching Band Bahana Kopaf Kab. Fakfak kece gak tuuh. Trus doi juga salah satu relawan untuk Fakfak Menginspirasi, Realawan Panitian Kelas Inspirasi Fakfak 2015 dan pernah juga tergabung dalam kepanitiaan Festival Inspirasi Fakfak 2015. Di balik ke-pecicilannya doi punya semangat yg besar utk bertindak dan berbagi. Baik2 d tanah Rantau yaaa 😉😉😉

14368643_1043963559051047_2067171206540560033_n

BERLIBUR DAN BERILMU

Hari libur telah tiba…!! Bukan hal yang terjadi untuk mungkin menjadi nyata tapi itulah hari yang sangat dinantikan untuk semua manusia agar bisa mereka pergunakan untuk beristirahat, berkumpul bareng keluarga, sanak saudara dan teman-teman kerja.

Beristirahat di rumah? Mungkin tak cukup banyak yang hanya beristirahat menghabiskan hari liburannya hanya dirumah saja, karena itu akan menimbulkan rasa jenuh yang cukup tapi tak apalah mungkin dengan begitu mereka lebih menikmatinya dari pada harus keluar rumah tanpa arah dan tujuan.

Berkumpul bareng? Mungkin ini adalah cara lain untuk sedikit menghapuskan kejenuhan yang hanya dari pada di rumah saja. Berkumpul bareng bertemu keluarga, sanak saudara dan teman-teman adalah saat yang tepat untuk menikmati hari libur itu tiba, bisa temu kangen bersama keluarga, saudara dan teman-teman dan ini merupakan salah satu cara yang ampuh untuk mempererat silaturahmi bersama mereka, bisa merasa lebih dekat, merasa saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya tanpa memandang mereka kaya atau miskin, punya pekerjaan atau tidak, apalagi punya penghasilan atau tidak yang jelas marilah kita berkumpul dan bercerita tentang bagaimana menikmati hidup ini yang berujung bahagia. Bahagia yang benar-benar merdeka dari bahagia hanya dengan saling beribadah lewat senyuman dengan mereka karena masih bisa dipertemukan disaat berkumpul bersama.

Berlibur? Yap…kalau ini bukan hanya Anda, tapi saya juga menjadikan ini sebagai pilihan saya untuk menikmati betapa indahnya hidup ini. Berlibur… iya… berlibur saja tak ada yang melarang entah kemanapun Anda pergi asalkan Anda harus ingat pulang sebelum waktu libur itu usai 😉 😉 kalau tidak tepat waktu… yah sudahlah, cukup Anda saja yang tau sambil tersenyum apa yang akan terjadi. Hahahaaaa… 😉 😉

Bagaimana cara Anda menikmati waktu liburan Anda? Apakah hanya pergi ke tempat-tempat rekreasi sambil duduk dan berjemur menghabiskan waktu disana? Bermain bola atau bermain pasir? Mandi air laut? Atau yang paling dahsyat saat ini dengan kemajuan teknologi adalah foto-foto selphy sampai batre Anda lowbath bahkan sampai tenggelam kedalam air laut? Ehehee… terserah Anda yang penting Anda menikmatinya semua dan sekali lagi tak ada yang melarang atau membatasi cara kalian menikmati waktu liburan Anda.

Namun menurut saya ini pilihan BERLIBUR, BERKREASI, BERILMU yang akan kami gabungkan dalam satu gerakan yang kami beri nama KEMAH BHAKTI. Yoi…saya termasuk salah satu anggota yang tergabung bersama salah satu komunitas yang punya kepedulian tingkat sosial yang cukup tinggi. *komposTIFA (Komunitas Muda Positif Fakfak) Alhamdulillah… Kampung Pasir Putih menjadi lokasi perdana kami mengadakan kegiatan ini, walau hanya sekali tapi maknanya berkali-kali. Kami mengajak, memberi, belajar, dan berbagi bersama mereka. Mengajak mereka bermain tersenyum lepas tanpa beban seakan-akan mereka lupa bahwa mereka beribadah dengan senyum manis mereka yang kami terima dengan senyuman indah yang menggambarkan kebanggaan tersendiri karena kami hadir di tengah keraguan mereka yang awalnya tidak mengetahui siapa kami. Mereka bebas berekspresi walau sedikit malu-malau karena mereka masih sangat muda untuk berbicara dan berbagi tentang kepribadian mereka itu sangat kami terima karena yang terpenting adalah mereka mau bicara dan tak perlu takut untuk salah. Hati saya menjadi berdebar dalam menikmati liburan yang seperti ini. Kapan lagi waktu kita bisa mengenal mereka, menggenggam tangan mereka, menatap mata mereka yang masih banyak harapan dengan impian cita-cita mereka, melihat mereka terus tersenyum dalam kondisi apapun. Pada keadaan seperti itu saya harus bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa dahulu kami tak pernah menjumpai hal yang seperti itu? Bagi saya yah sudahlah itu sudah berlalu, tapi yang belum berlalu saat ini adalah bagaimana kita bisa hadir di tengah-tengah mereka menemani sedikit kesepian mereka disaat hari libur itu tiba, yang tadinya mereka sendiri kini mereka menjadi ramai dan keramaian itu tak akan sia-sia tapi akan kita kenang bersama karena sesungguhnya apa yang manusia cari didunia ini akan berujung pada KEBAHAGIAAN. Sudahkan Anda berbagi kebahagiaan? Jangan sampai katakan TIDAK, karena senyuman yang tidak sengaja Anda berikan itu sudah cukup membuat orang yang melihatnya merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena senyum itu adalah ibadah yang nyata yang kami saksikan secara natural dari diri Anda. Manfaatkan waktu dan kesempatan Anda jika itu adalah jalan yang terbaik yang harus dilakukan dengan segera…!! Saya tak minta banyak dari Anda, tapi masih bisakah saya meminta Anda untuk tetap tersenyum. TERIMA KASIH… Tersenyumlah kepada mereka dalam kondisi apapun serta Tersenyumlah kepada Sang Pencipta Alam Semesta betapa bersyukurnya kami masih dipertemukan sampai saat ini dalam sebuah gerakan-gerakan positif. Salam Positivers…!! komposTIFA, Be The Best!

unnamed

Kemah Bhakti komposTIFA Part 1, Kampung Pasir Putih 

Fakfak, 16 September 2016

Ardi Rahman Ena (@Ardi_Rahman21)

Propos Minggu Ini

Hai…hai…hai…semangat sabtu di september ceria.

Langsung aja mimin bkl kenalin positivers semua sama cwe yg doyan selfie ini.Annisa nur mutmainna namanya biasa di panggil nissa atw mu’ma.Propos cantik yg satu ini sekarang duduk di bangku kelas 3 SMK Yapis Fakfak.Selain aktif di pramuka dia juga aktif di beberapa kegiatan sosial lainnya.Walaupun usianya masih muda tp dia punya jiwa sosial yg tinggi dan semangat yg besar untuk melakukan hal-hal positif.cwe yg bercita-cita ingin jd penyiar ini pernah mengikuti studi banding di kampung inggris,kediri dan dia juga pernah mengikuti kegiatan PII (pelajar islam indonesia) di kabupaten sorong.

14264882_1038179672962769_5739507609580370441_n

CATATAN PERJALANAN, antara SIBORU dan KomposTIFA

Hujan cukup deras di sore hari sabtu, 30 Juli 2016 ketika kami tengah berkumpul sesuai dengan apa yang kami rencanakan sebelumnya. Hari itu kami memang berencana untuk menuju ke kampung siboru, tujuan untuk mencipta satu lagi rumah baca di kota kecil ini. Ya! Kami dalam project launching Rumah Baca KomposTIFA Siboru. Jadwal kumpul cukup molor mirip kayak karet yang yang biasa anak kecil mainkan di halaman sekolah itu, tertarik jauh dari jadwal yang sudah sejak jum’at malam meramaikan grup whatsapp berlabel komposTIFA. Seharusnya menurut jadwal, kami sudah harus berkumpul sejak siang. Iya siang, saya sedikit lupa persisnya tapi sepertinya sekitar jam 1 atau 2 siang hari waktu Fakfak. Saya sering berpikir kalau label waktu Indonesia bagian Fakfak ini yang terkadang menjadi modal bagi banyak dari kami untuk bermain karet, alias molorin waktu. Kadang menyenangkan sih, karena jadi punya tambahan buat celengan kami dari para sukarelawan pengundur jam. Haha. Terkait soal jam, ada hal yang menarik di sebuah perjalanan komunitas atau perkumpulan yang didalamnya banyak kepala-kepala yang umurnya diatas angka 20an ups. Bukan hal mudah untuk taat pada kesepakatan komunitas soal waktu, di tengah tanggung jawab pribadi untuk mengisi perut masing-masing, tepat waktu? tentu saja mau tapi kadang bos dan kantor yang tidak mau tau. Begitu kira-kira. Tapi tentu saja ini bukan pemutus semangat tapi menjadi sebuah tantangan bagi kami semua, karena kami sudah sama-sama berkomitmen untuk Komunitas kesayangan ini.

Singkatnya dengan segala drama saling menunggu dibawah rinai hujan basahi aku temani sepi yang mengendap akhirnya berhasil juga kami berkumpul lengkap. Fiuh. Kira-kira sekitar setengah lima sore dengan diawali do’a bareng, berangkatlah kami menuju Kampung Siboru Distrik Fakfak Barat. Hujan memang masih tidak mau berhenti ketika akhirnya kami beranjak dari basecamp kesayangan di pertigaan gapensi, saya curiga ada yang sedang mengingat seseorang sampai hujan mau menghapus airmatanya. Ecie…. Kami harus melewati beberapa pokestop pemberhentian karena beberapa barang yang harus dibawa memang ada di beberapa rumah. Total ada 9 “Powerranger” yang ikut dalam perjalanan kali ini, dengan 5 motor dan 1 mobil yang hanya terisi tumpukan barang. Kenapa cuma 9? Ya, kami memang menerapkan sistem bebas tanpa syarat di setiap kegiatan kami. Tentu saja karena kesibukkan pribadi masing-masing yang tidak mungkin bisa dipaksakan. Toh, pada dasarnya tiap-tiap dari kami punya andil besar di setiap perjalanan project-project positif yang telah berjalan sampai sejauh ini.Tidak hanya hasil akhir, tapi perjuangan di perjalanan tetaplah buah kerja keras bersama. Jadi, kami tetap KomposTIFA berapapun jumlah kami.

6724d86b-41c1-403b-ada1-4c61793b9852

Numpang foto dengan mobil, walaupun tetap aja harus naik motor

4581374f-3811-4093-b1a0-137c67b64af6

Basecamp gapensi kesayangan. Rumah Bapa-Mama Hasanuddin

Rumah Baca KomposTIFA Siboru merupakan project rumah baca kedua kami setelah sebelumnya berhasil berdiri di Kampung Arguni-taver Distrik Kokas. Perencanaan rumah baca ini cukup lama, dimulai setelah ada pembicaraan dengan Pengajar Muda X yang bertugas di kampung Siboru panggil saja Ibu Putri di event FKTK IM yang membuka jalan dan memancing semangat kami untuk juga membuka rumah baca di kampung tersebut. Setelahnya di setiap pertemuan rutin, kami selalu menyelipkan perencanaan rumah baca ini. Tidak mudah, mengingat lokasi yang tidak dekat ini membuat kami harus memikirkan banyak hal. Tidak hanya buku, tapi juga persiapan perlengkapan untuk mempercantik rumah baca nanti. Kata seseorang yang entah siapa, jika itu hal yang baik lakukan saja karena akan banyak orang baik yang memperlancar niatmu. Tadaaa, gayung bersambut dari banyak pihak. Support dalam bentuk buku berdatangan, terbang dari banyak tempat. Pengajar Muda, Penyala Makassar, Shareforlove, Expedisi NKRI, belum lagi dari perorangan. Tidak hanya buku karena faktanya kami pun butuh mentahan, bukan! kami tidak bermaksud belajar jadi cewek matre kami hanya berusaha realistis. Membangun sebuah rumah baca tidak sekedar mengumpulkan dan memberikan buku kemudian selesai. Banyak PR yang harus dipikirkan termasuk perlengkapan yang membutuhkan biaya yang tak kecil. Tapi lagi-lagi niat baik tidak perlu di khawatirkan karena orang baik akan selalu ada. Abdullah dan Fatimah bermunculan, entah darimana. Ah iya, kalau bertanya-tanya siapa itu Abdullah dan Fatimah? Saya akan sedikit menjelaskan. Dua nama tersebut kami gunakan untuk para donatur yang dengan segala kerendahan hati mereka mengeluarkan sebagian harta mereka untuk niat baik dari project positif KomposTIFA. Terimakasih. Akhirnya, donasi terkumpul, buku terkumpul, semangat terkumpul, support terkumpul dan bergerak majulah kami hingga sampai di perjalanan yang sedang saya ceritakan kali ini.

Hujan masih tetap mengiringi perjalanan panjang kami hingga sampai di kampung wartutin, kampung yang rencananya akan menjadi tempat kami untuk menyeberang ke kampung siboru. Kampung siboru sebenarnya bisa ditempuh melalui jalan darat, hanya saja membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kami memutuskan untuk memotong jalan dengan melakukan penyeberangan melalui laut menggunakan perahu dengan waktu cukup singkat hanya sekitar 5 menit. Pantai monmon seharusnya menjadi pelabuhan bagi kami untuk melakukan penyeberangan ke kampung siboru. Pantai kecil cantik ini berada di kampung wartutin dengan pemandangan pulau-pulau kecil didepannya dan pohon kelapa berdiri di sekitar pantai, sesekali ada anjing peliharan warga sekitar yang berkeliaran mendekati kami sekedar untuk mengharapkan diberi makanan. Sayangnya kami kesorean, lebih tepatnya kemalaman. Akibat telatnya kami berangkat seperti yang saya ceritakan di awal. Kami baru tiba di pantai monmon jam setengah 7 malam. Belum banyak rumah disekitar jalanan pantai, hanya sebuah sekolah dengan dua ruang kelas serta beberapa rumah yang cukup tersebar di pinggiran jalan yang menemani kami. Belum ada listrik jadi kami hanya mengandalkan senter yang kami bawa, lampu-lampu yang ada di motor kami dan satu kali lampu mobil yang kebetulan melintas.

Kami terlambat. Ya sejak awal kami memang terlambat. Harusnya sekitar jam 4 atau 5 sore kami sudah tiba di pantai monmon sehingga perahu milik kepala kampung yang datang menjemput sudah bisa langsung mengantarkan kami ke kampung siboru. Kalau saja ada guru SD saya disini, mungkin saya sudah disuruh berdiri menghadap dinding kelas sambil ditonton teman sekelas. Ampun pak. Keseruan belum berakhir, selain berdiri bersama ditengah hujan yang entah kenapa masih saja turun walau tinggal rintikan kecil dan juga kegelapan disekitar kami. Ada satu masalah lagi, kami kelaparan  kehilangan sinyal Handphone. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami makanan kuda, beberapa dari kami berusaha mencari sinyal. Masalahnya, tanpa sinyal kami tidak mungkin bisa menghubungi bapak kepala kampung untuk memberitahukan kami (akhirnya) tiba di pantai monmon. Kami tidak putus asa, kami rebutan cemilan dari tangan kakak Amyroger perjalanan sudah panjang kami tidak mungkin berhenti disini. Setelah diskusi kami menjauh dari pantai monmon dan mendekati pantai lain dengan masih berharap sinyal tiba-tiba datang. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah besar dan panjang masih di tepian pantai. Sedikit kelegaan. Mungkin kami bisa beristirahat dulu, sambil menunaikan ibadah bagi beberapa orang dari kami. Menjelang sekitar setengah 8 malam saat itu.

6d2520f8-3030-49fe-ae74-0a709c3034f3

Percayalah, itu foto mobil yang berisi barang kami dan kegelapan disekitarnya

Bapa Ger. Begitu kami berkenalan dengan orang baik penghuni rumah besar di ujung perjalanan kami. Oh iya, lokasi rumah berada cukup di bawah sedangkan posisi kami saat itu berada diatas. Alhasil, kerja bakti lah kami ditengah kegelapan dan jalanan lumpur yang super licin. Mengoper satu demi satu barang, dari tas, kardus-kardus buku, plastik yang entah apa isinya sampai gelonggongan kayu yang beratnya minta ampun kami turunkan semuanya hingga semua barang dalam mobil tidak tersisa dan mobil bisa kembali ke kota. Malam itu, bapa ger, istri dan satu anaknya yang bernama Rina menyambut ramah datangnya kami yang sudah sangat butuh kasih sayang tempat istirahat. Beberapa dari kami sebelumnya sudah lebih dahulu bercerita kenapa kami bisa sampai di tempat ini, dan bersedialah keluarga baik hati tersebut menampung kami sementara.

Setelah sedikit bersih-bersih dan ibadah, berkumpullah kami diantara kegelapan dan suara ombak pantai di pelataran belakang rumaha bapa ger. Sambil mengobrol dan bercanda kami tetap berusaha mencari sinyal yang kata bapa ger bisa didapat jika menggantung HP di salah satu tiang rumah. Dicobalah. Ditengah cahaya remang dari senter-senter kami dan ditemani teh hangat, beberapa tangan mulai bergerak menyelesaikan perlengkapan kecil untuk menghias rumah baca nanti. Termasuk membuat burung dari kertas origami yang ternyata hanya beberapa orang yang bisa. Malam itu dibuka kursus kilat membuat burung dari origami, dengan peserta dari antara kami ditambah Rina. Anak dari bapa ger ini kelas 6 SD dan bersekolah di SD YPK Siboru, tempat dimana kami akan membuka rumah baca disana. Rina dengan riangnya bercerita, dia akan mendayung sendiri perahu kecilnya untuk pulang dan pergi menuju sekolahnya termasuk untuk ibadah di gereja di setiap minggunya. Tidak ada alasan baginya untuk tidak bersekolah. Semoga kamu tidak pernah kehilangan semangatmu untuk belajar ya dek! Sampai nanti kamu berhasil meraih cita dan membanggakan semua orang. Do’a kami bersamamu. 😀 Kami masih asyik dengan aktifitas masing-masing, menggunting, melipat, bercerita sesekali diselingi gelak tawa.

0fa49603-23ab-425b-9ca5-a4cf73a40417d2a62ede-a995-4b6a-a589-b45604287776

dilipat, digunting, dimakan

Sinyal datang! Ya, tiba-tiba handphone salah satu dari kami, sebut saja namanya kaka ikhsan menunjukkan tanda kehebatannya berhasil mendapatkan sinyal. Kami berhasil menghubungi rekan di kota untuk menghubungi bapak kepala kampung memberitahukan keberadaan kami di rumah bapa ger. Waktu itu sekitar pukul 10 malam atau hampir setengah 11 malam. Kami menunggu, harap-harap cemas. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian terdengar suara Jonson perahu dari kejauhan. Jemputan datang! Tapi bukan kami kalau tanpa perbedaan, ketika suara jonson semakin mendekat terjadi sedikit perdebatan apakah mau lanjut malam ini menuju kampung atau besok pagi-pagi saja. Wajar saja, kami sudah cukup lelah menempuh perjalanan jauh dan saat itu sudah terlalu malam tapi disisi lain kami punya banyak PR besar yang harus diselesaikan. Ya rumah baca saat itu masih dalam kondisi 30% saja dari kata beres. Sebelumnya kami memang sudah terlebih dahulu mengunjungi dengan jumlah powerrangers yang berbeda, sayangnya bahan yang kami bawa tidak terlalu banyak sehingga banyak hal yang mesti di lanjutkan. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk pergi malam itu juga. Akhirnya kami kembali berkemas, semua barang kami bawa menuju perahu. Ditengah malam, lagi-lagi hanya bermodal senter yang kebanyakan dari HP. Sekitar jam 11 malam akhirnya kami berhasil memindahkan semua barang dari rumah bapa ger ke atas perahu, termasuk kami sendiri. Setelah pamit, mengucapkan terimakasih dan berkata pada bapa ger kami akan kesana lagi (mengingat kami semua meninggalkan helm, jas hujan dan motor di sana) hari minggu keesokan hari. Berangkatlah kami.

406904d8-fe75-4812-bab7-60db390e1af3

Perahu kami dan kegelapan di sekitar itu adalah laut.

Perjuangan belum berakhir kawan, setiba disana kami harus langsung bergerak. Membersihkan dan menyelesaikan segala sesuatunya. Bergantian mengambil jatah tidur sejenak, ditengah kelelahan dan semangat yang menggebu. Mengerjakan hingga tenaga terakhir, sampai jam terakhir akhirnya kami semua benar-benar tertidur pulas adalah hampir jam 4 pagi! Saat itu kondisi rumah baca sudah meningkat sekitar 75% dari apa yang kami inginkan secara menyeluruh. Kami memang hanya perlu membersihkan karena calon Rumah Baca kami menggunakan bekas perpustakaan SD YPK Siboru yang sudah tidak terpakai.

368eb1db-aa41-4e3b-b8de-3cf6075e10e0

67a01b00-f0e3-4bee-ba34-b865b8e8bd95

Kerja. Tidur. Kerja.

ce60dbe1-3f9b-45df-8d74-77917e547773

Tiga powerrangers terakhir yang bertahan hinga setengah 4 pagi

Sampai pagi benar-benar datang. Pekerjaan masih harus dilanjutkan, menyelesaikan semuanya sampai seratus persen. Hujan masih tetap bersama kami dan rekan-rekan kecil kami yang membantu menyelesaikan semuanya. Tangan-tangan kecil mereka membantu menghias setiap detil kecil dari rumah baca komposTIFA Siboru. Setelah perjuangan panjang, perjalanan panjang, cerita yang juga panjang akhirnya acara launching rumah baca terselenggara sekitar pukul 5 sore hari minggu, 31 Juli 2016 dihadiri oleh bapak kepala kampung, pemuka agama, pemuka adat, guru sekolah, beberapa warga dan murid SD tersebut hadir memeriahkan acara sederhana yang kami lakukan. Sambutan yang hangat dari semua membuat segala lelah badan tidak terasa. Kami senang. Kami bahagia.

Tugas kami masih panjang, mengutip sedikit kata bapak kepala kampung “kami masih berharap teman-teman KomposTIFA tidak meninggalkan rumah baca ini begitu saja. Mudah-mudahan kami masih terus tetap dikunjungi dan belajar bersama”. Aamiin. Kami akan usahakan itu pak. Harapan kami Rumah Baca ini bisa benar-benar berguna untuk warga kampung Siboru, sampai kapanpun. PR kami masih banyak, kami masih punya hutang kunjungan untuk rumah baca kompostifa di kampung arguni-taver dan kami juga akan tetap menjadwalkan untuk kembali ke Siboru. Terimakasih dukungan semua pihak untuk segala hal positif kepada kami. Tunggu kami di cerita projectpositif kami lainnya. Sekali lagi. Terimakasih. Terimakasih kalian semua.

88ed98b3-9fe9-4fc6-8da7-f8c6c40b98ab

e6110821-0e2b-498e-b3fa-4cf1601d9f04

Tempel, hias yang cantik dek. Baju pink yang namanya Rina.

e21277b1-667b-454e-a277-a5ff5d1a109c

b9943ae5-5efe-41ee-a5a5-1029707c7019

Kerja kerja kerja

Tadaaaaa…..

Ini rumah baca KomposTIFA Siboru

c6db3312-c1c2-4e80-84a3-4624e09d4a2d

7d2ab57f-04a6-4c40-8883-511d43d755e1

Tampak Luar

INI KAMI!!!

eb83bc9e-d137-4ef2-a387-bcee3d48d243

4c5f8204-ef73-46f9-96f7-6b29d5a58a2a

Bareng Bapak Kepala Kampung dan Warga Kampung Siboru

“salah satu cara mendeteksi sejauh mana kecintaanmu pada apa yang kamu lakukan adalah dengan melihat letak lelahmu. Ketika kamu merasa lelah diselang antara sebelum sampai saat kamu mengerjakan tugasmu maka kamu tak mencintai benar apa yang kamu lakukan. Tetapi jika lelahmu terasa ketika pekerjaan tersebut tuntas kamu lakukan, maka lanjutkanlah karena kamu sedang jatuh cinta pada apa yang kamu lakukan.”

September 2016

Citra Rizky Handayani (@dede_crh)

KomposTIFA