CATATAN PERJALANAN, antara SIBORU dan KomposTIFA

Hujan cukup deras di sore hari sabtu, 30 Juli 2016 ketika kami tengah berkumpul sesuai dengan apa yang kami rencanakan sebelumnya. Hari itu kami memang berencana untuk menuju ke kampung siboru, tujuan untuk mencipta satu lagi rumah baca di kota kecil ini. Ya! Kami dalam project launching Rumah Baca KomposTIFA Siboru. Jadwal kumpul cukup molor mirip kayak karet yang yang biasa anak kecil mainkan di halaman sekolah itu, tertarik jauh dari jadwal yang sudah sejak jum’at malam meramaikan grup whatsapp berlabel komposTIFA. Seharusnya menurut jadwal, kami sudah harus berkumpul sejak siang. Iya siang, saya sedikit lupa persisnya tapi sepertinya sekitar jam 1 atau 2 siang hari waktu Fakfak. Saya sering berpikir kalau label waktu Indonesia bagian Fakfak ini yang terkadang menjadi modal bagi banyak dari kami untuk bermain karet, alias molorin waktu. Kadang menyenangkan sih, karena jadi punya tambahan buat celengan kami dari para sukarelawan pengundur jam. Haha. Terkait soal jam, ada hal yang menarik di sebuah perjalanan komunitas atau perkumpulan yang didalamnya banyak kepala-kepala yang umurnya diatas angka 20an ups. Bukan hal mudah untuk taat pada kesepakatan komunitas soal waktu, di tengah tanggung jawab pribadi untuk mengisi perut masing-masing, tepat waktu? tentu saja mau tapi kadang bos dan kantor yang tidak mau tau. Begitu kira-kira. Tapi tentu saja ini bukan pemutus semangat tapi menjadi sebuah tantangan bagi kami semua, karena kami sudah sama-sama berkomitmen untuk Komunitas kesayangan ini.

Singkatnya dengan segala drama saling menunggu dibawah rinai hujan basahi aku temani sepi yang mengendap akhirnya berhasil juga kami berkumpul lengkap. Fiuh. Kira-kira sekitar setengah lima sore dengan diawali do’a bareng, berangkatlah kami menuju Kampung Siboru Distrik Fakfak Barat. Hujan memang masih tidak mau berhenti ketika akhirnya kami beranjak dari basecamp kesayangan di pertigaan gapensi, saya curiga ada yang sedang mengingat seseorang sampai hujan mau menghapus airmatanya. Ecie…. Kami harus melewati beberapa pokestop pemberhentian karena beberapa barang yang harus dibawa memang ada di beberapa rumah. Total ada 9 “Powerranger” yang ikut dalam perjalanan kali ini, dengan 5 motor dan 1 mobil yang hanya terisi tumpukan barang. Kenapa cuma 9? Ya, kami memang menerapkan sistem bebas tanpa syarat di setiap kegiatan kami. Tentu saja karena kesibukkan pribadi masing-masing yang tidak mungkin bisa dipaksakan. Toh, pada dasarnya tiap-tiap dari kami punya andil besar di setiap perjalanan project-project positif yang telah berjalan sampai sejauh ini.Tidak hanya hasil akhir, tapi perjuangan di perjalanan tetaplah buah kerja keras bersama. Jadi, kami tetap KomposTIFA berapapun jumlah kami.

6724d86b-41c1-403b-ada1-4c61793b9852

Numpang foto dengan mobil, walaupun tetap aja harus naik motor

4581374f-3811-4093-b1a0-137c67b64af6

Basecamp gapensi kesayangan. Rumah Bapa-Mama Hasanuddin

Rumah Baca KomposTIFA Siboru merupakan project rumah baca kedua kami setelah sebelumnya berhasil berdiri di Kampung Arguni-taver Distrik Kokas. Perencanaan rumah baca ini cukup lama, dimulai setelah ada pembicaraan dengan Pengajar Muda X yang bertugas di kampung Siboru panggil saja Ibu Putri di event FKTK IM yang membuka jalan dan memancing semangat kami untuk juga membuka rumah baca di kampung tersebut. Setelahnya di setiap pertemuan rutin, kami selalu menyelipkan perencanaan rumah baca ini. Tidak mudah, mengingat lokasi yang tidak dekat ini membuat kami harus memikirkan banyak hal. Tidak hanya buku, tapi juga persiapan perlengkapan untuk mempercantik rumah baca nanti. Kata seseorang yang entah siapa, jika itu hal yang baik lakukan saja karena akan banyak orang baik yang memperlancar niatmu. Tadaaa, gayung bersambut dari banyak pihak. Support dalam bentuk buku berdatangan, terbang dari banyak tempat. Pengajar Muda, Penyala Makassar, Shareforlove, Expedisi NKRI, belum lagi dari perorangan. Tidak hanya buku karena faktanya kami pun butuh mentahan, bukan! kami tidak bermaksud belajar jadi cewek matre kami hanya berusaha realistis. Membangun sebuah rumah baca tidak sekedar mengumpulkan dan memberikan buku kemudian selesai. Banyak PR yang harus dipikirkan termasuk perlengkapan yang membutuhkan biaya yang tak kecil. Tapi lagi-lagi niat baik tidak perlu di khawatirkan karena orang baik akan selalu ada. Abdullah dan Fatimah bermunculan, entah darimana. Ah iya, kalau bertanya-tanya siapa itu Abdullah dan Fatimah? Saya akan sedikit menjelaskan. Dua nama tersebut kami gunakan untuk para donatur yang dengan segala kerendahan hati mereka mengeluarkan sebagian harta mereka untuk niat baik dari project positif KomposTIFA. Terimakasih. Akhirnya, donasi terkumpul, buku terkumpul, semangat terkumpul, support terkumpul dan bergerak majulah kami hingga sampai di perjalanan yang sedang saya ceritakan kali ini.

Hujan masih tetap mengiringi perjalanan panjang kami hingga sampai di kampung wartutin, kampung yang rencananya akan menjadi tempat kami untuk menyeberang ke kampung siboru. Kampung siboru sebenarnya bisa ditempuh melalui jalan darat, hanya saja membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga kami memutuskan untuk memotong jalan dengan melakukan penyeberangan melalui laut menggunakan perahu dengan waktu cukup singkat hanya sekitar 5 menit. Pantai monmon seharusnya menjadi pelabuhan bagi kami untuk melakukan penyeberangan ke kampung siboru. Pantai kecil cantik ini berada di kampung wartutin dengan pemandangan pulau-pulau kecil didepannya dan pohon kelapa berdiri di sekitar pantai, sesekali ada anjing peliharan warga sekitar yang berkeliaran mendekati kami sekedar untuk mengharapkan diberi makanan. Sayangnya kami kesorean, lebih tepatnya kemalaman. Akibat telatnya kami berangkat seperti yang saya ceritakan di awal. Kami baru tiba di pantai monmon jam setengah 7 malam. Belum banyak rumah disekitar jalanan pantai, hanya sebuah sekolah dengan dua ruang kelas serta beberapa rumah yang cukup tersebar di pinggiran jalan yang menemani kami. Belum ada listrik jadi kami hanya mengandalkan senter yang kami bawa, lampu-lampu yang ada di motor kami dan satu kali lampu mobil yang kebetulan melintas.

Kami terlambat. Ya sejak awal kami memang terlambat. Harusnya sekitar jam 4 atau 5 sore kami sudah tiba di pantai monmon sehingga perahu milik kepala kampung yang datang menjemput sudah bisa langsung mengantarkan kami ke kampung siboru. Kalau saja ada guru SD saya disini, mungkin saya sudah disuruh berdiri menghadap dinding kelas sambil ditonton teman sekelas. Ampun pak. Keseruan belum berakhir, selain berdiri bersama ditengah hujan yang entah kenapa masih saja turun walau tinggal rintikan kecil dan juga kegelapan disekitar kami. Ada satu masalah lagi, kami kelaparan  kehilangan sinyal Handphone. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami makanan kuda, beberapa dari kami berusaha mencari sinyal. Masalahnya, tanpa sinyal kami tidak mungkin bisa menghubungi bapak kepala kampung untuk memberitahukan kami (akhirnya) tiba di pantai monmon. Kami tidak putus asa, kami rebutan cemilan dari tangan kakak Amyroger perjalanan sudah panjang kami tidak mungkin berhenti disini. Setelah diskusi kami menjauh dari pantai monmon dan mendekati pantai lain dengan masih berharap sinyal tiba-tiba datang. Sampai akhirnya kami berhenti di sebuah rumah besar dan panjang masih di tepian pantai. Sedikit kelegaan. Mungkin kami bisa beristirahat dulu, sambil menunaikan ibadah bagi beberapa orang dari kami. Menjelang sekitar setengah 8 malam saat itu.

6d2520f8-3030-49fe-ae74-0a709c3034f3

Percayalah, itu foto mobil yang berisi barang kami dan kegelapan disekitarnya

Bapa Ger. Begitu kami berkenalan dengan orang baik penghuni rumah besar di ujung perjalanan kami. Oh iya, lokasi rumah berada cukup di bawah sedangkan posisi kami saat itu berada diatas. Alhasil, kerja bakti lah kami ditengah kegelapan dan jalanan lumpur yang super licin. Mengoper satu demi satu barang, dari tas, kardus-kardus buku, plastik yang entah apa isinya sampai gelonggongan kayu yang beratnya minta ampun kami turunkan semuanya hingga semua barang dalam mobil tidak tersisa dan mobil bisa kembali ke kota. Malam itu, bapa ger, istri dan satu anaknya yang bernama Rina menyambut ramah datangnya kami yang sudah sangat butuh kasih sayang tempat istirahat. Beberapa dari kami sebelumnya sudah lebih dahulu bercerita kenapa kami bisa sampai di tempat ini, dan bersedialah keluarga baik hati tersebut menampung kami sementara.

Setelah sedikit bersih-bersih dan ibadah, berkumpullah kami diantara kegelapan dan suara ombak pantai di pelataran belakang rumaha bapa ger. Sambil mengobrol dan bercanda kami tetap berusaha mencari sinyal yang kata bapa ger bisa didapat jika menggantung HP di salah satu tiang rumah. Dicobalah. Ditengah cahaya remang dari senter-senter kami dan ditemani teh hangat, beberapa tangan mulai bergerak menyelesaikan perlengkapan kecil untuk menghias rumah baca nanti. Termasuk membuat burung dari kertas origami yang ternyata hanya beberapa orang yang bisa. Malam itu dibuka kursus kilat membuat burung dari origami, dengan peserta dari antara kami ditambah Rina. Anak dari bapa ger ini kelas 6 SD dan bersekolah di SD YPK Siboru, tempat dimana kami akan membuka rumah baca disana. Rina dengan riangnya bercerita, dia akan mendayung sendiri perahu kecilnya untuk pulang dan pergi menuju sekolahnya termasuk untuk ibadah di gereja di setiap minggunya. Tidak ada alasan baginya untuk tidak bersekolah. Semoga kamu tidak pernah kehilangan semangatmu untuk belajar ya dek! Sampai nanti kamu berhasil meraih cita dan membanggakan semua orang. Do’a kami bersamamu. 😀 Kami masih asyik dengan aktifitas masing-masing, menggunting, melipat, bercerita sesekali diselingi gelak tawa.

0fa49603-23ab-425b-9ca5-a4cf73a40417d2a62ede-a995-4b6a-a589-b45604287776

dilipat, digunting, dimakan

Sinyal datang! Ya, tiba-tiba handphone salah satu dari kami, sebut saja namanya kaka ikhsan menunjukkan tanda kehebatannya berhasil mendapatkan sinyal. Kami berhasil menghubungi rekan di kota untuk menghubungi bapak kepala kampung memberitahukan keberadaan kami di rumah bapa ger. Waktu itu sekitar pukul 10 malam atau hampir setengah 11 malam. Kami menunggu, harap-harap cemas. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian terdengar suara Jonson perahu dari kejauhan. Jemputan datang! Tapi bukan kami kalau tanpa perbedaan, ketika suara jonson semakin mendekat terjadi sedikit perdebatan apakah mau lanjut malam ini menuju kampung atau besok pagi-pagi saja. Wajar saja, kami sudah cukup lelah menempuh perjalanan jauh dan saat itu sudah terlalu malam tapi disisi lain kami punya banyak PR besar yang harus diselesaikan. Ya rumah baca saat itu masih dalam kondisi 30% saja dari kata beres. Sebelumnya kami memang sudah terlebih dahulu mengunjungi dengan jumlah powerrangers yang berbeda, sayangnya bahan yang kami bawa tidak terlalu banyak sehingga banyak hal yang mesti di lanjutkan. Setelah berdiskusi, akhirnya kami memutuskan untuk pergi malam itu juga. Akhirnya kami kembali berkemas, semua barang kami bawa menuju perahu. Ditengah malam, lagi-lagi hanya bermodal senter yang kebanyakan dari HP. Sekitar jam 11 malam akhirnya kami berhasil memindahkan semua barang dari rumah bapa ger ke atas perahu, termasuk kami sendiri. Setelah pamit, mengucapkan terimakasih dan berkata pada bapa ger kami akan kesana lagi (mengingat kami semua meninggalkan helm, jas hujan dan motor di sana) hari minggu keesokan hari. Berangkatlah kami.

406904d8-fe75-4812-bab7-60db390e1af3

Perahu kami dan kegelapan di sekitar itu adalah laut.

Perjuangan belum berakhir kawan, setiba disana kami harus langsung bergerak. Membersihkan dan menyelesaikan segala sesuatunya. Bergantian mengambil jatah tidur sejenak, ditengah kelelahan dan semangat yang menggebu. Mengerjakan hingga tenaga terakhir, sampai jam terakhir akhirnya kami semua benar-benar tertidur pulas adalah hampir jam 4 pagi! Saat itu kondisi rumah baca sudah meningkat sekitar 75% dari apa yang kami inginkan secara menyeluruh. Kami memang hanya perlu membersihkan karena calon Rumah Baca kami menggunakan bekas perpustakaan SD YPK Siboru yang sudah tidak terpakai.

368eb1db-aa41-4e3b-b8de-3cf6075e10e0

67a01b00-f0e3-4bee-ba34-b865b8e8bd95

Kerja. Tidur. Kerja.

ce60dbe1-3f9b-45df-8d74-77917e547773

Tiga powerrangers terakhir yang bertahan hinga setengah 4 pagi

Sampai pagi benar-benar datang. Pekerjaan masih harus dilanjutkan, menyelesaikan semuanya sampai seratus persen. Hujan masih tetap bersama kami dan rekan-rekan kecil kami yang membantu menyelesaikan semuanya. Tangan-tangan kecil mereka membantu menghias setiap detil kecil dari rumah baca komposTIFA Siboru. Setelah perjuangan panjang, perjalanan panjang, cerita yang juga panjang akhirnya acara launching rumah baca terselenggara sekitar pukul 5 sore hari minggu, 31 Juli 2016 dihadiri oleh bapak kepala kampung, pemuka agama, pemuka adat, guru sekolah, beberapa warga dan murid SD tersebut hadir memeriahkan acara sederhana yang kami lakukan. Sambutan yang hangat dari semua membuat segala lelah badan tidak terasa. Kami senang. Kami bahagia.

Tugas kami masih panjang, mengutip sedikit kata bapak kepala kampung “kami masih berharap teman-teman KomposTIFA tidak meninggalkan rumah baca ini begitu saja. Mudah-mudahan kami masih terus tetap dikunjungi dan belajar bersama”. Aamiin. Kami akan usahakan itu pak. Harapan kami Rumah Baca ini bisa benar-benar berguna untuk warga kampung Siboru, sampai kapanpun. PR kami masih banyak, kami masih punya hutang kunjungan untuk rumah baca kompostifa di kampung arguni-taver dan kami juga akan tetap menjadwalkan untuk kembali ke Siboru. Terimakasih dukungan semua pihak untuk segala hal positif kepada kami. Tunggu kami di cerita projectpositif kami lainnya. Sekali lagi. Terimakasih. Terimakasih kalian semua.

88ed98b3-9fe9-4fc6-8da7-f8c6c40b98ab

e6110821-0e2b-498e-b3fa-4cf1601d9f04

Tempel, hias yang cantik dek. Baju pink yang namanya Rina.

e21277b1-667b-454e-a277-a5ff5d1a109c

b9943ae5-5efe-41ee-a5a5-1029707c7019

Kerja kerja kerja

Tadaaaaa…..

Ini rumah baca KomposTIFA Siboru

c6db3312-c1c2-4e80-84a3-4624e09d4a2d

7d2ab57f-04a6-4c40-8883-511d43d755e1

Tampak Luar

INI KAMI!!!

eb83bc9e-d137-4ef2-a387-bcee3d48d243

4c5f8204-ef73-46f9-96f7-6b29d5a58a2a

Bareng Bapak Kepala Kampung dan Warga Kampung Siboru

“salah satu cara mendeteksi sejauh mana kecintaanmu pada apa yang kamu lakukan adalah dengan melihat letak lelahmu. Ketika kamu merasa lelah diselang antara sebelum sampai saat kamu mengerjakan tugasmu maka kamu tak mencintai benar apa yang kamu lakukan. Tetapi jika lelahmu terasa ketika pekerjaan tersebut tuntas kamu lakukan, maka lanjutkanlah karena kamu sedang jatuh cinta pada apa yang kamu lakukan.”

September 2016

Citra Rizky Handayani (@dede_crh)

KomposTIFA

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s