Mantra yang Menguatkan

Petualangan makna yang kami jalani nyaris setahun ini, hakikatnya membuat kami menyusuri jalan-jalan hikmah yang menuntun kami pada “mantra-mantra ajaib” yang menguatkan.Tidak hanya menguatkan,mantra-mantra itu justru membuat kami tergila-gila bahkan kecanduan pada “Gaya Baru Sakau”, Sakau akan Kebajikan. Sakau akan berbuat hal-hal yang bermanfaat.

Apakah ini kegilaan ? Ya, Ia adalah Kegilaan yang Mulia. Dan jika sakau-sakau kebanyakan memiliki efek samping negative,maka sakau gaya baru kami adalah berefek samping persahabatan, kekeluargaan ,silaturahmi.Ini belum seberapa jika ditambah dengan Apresiasi-apresiasi kecil yang kami dapatkan di tempat-tempat dimana jejak langkah maslahat kami tertinggal.

Sahabat mungkin akan bertanya, mantra apakah  itu yang menguatkan? Sedemikian dahsyatnyakah mantra itu sampai-sampai membuat kami demikian tergila-gila oleh energi gaib kasat mataitu ? Perlu waktu selama itukah hingga “mantra” itu menyusup ke dalam hati ?

Sesungguhnya, ini adalah mantra sederhana yang kami temukan dari eksperimen-eksperimen maslahat kami, dari keyakinan kami bahwa sesungguhnya “Segala Niat Baik pasti akan selalu dimudahkan“. Dari sinilah Energi  Gaib itu bermula dan menjadi mantra yang terus kami ulang-ulang hingga menjejaringkan segala bentuk perbedaan latar belakang kami menjadi karya kebajikan kolektif.

dsc_0868

kompostifa-crew

We are “Propos” KomposTIFA

Kawan, saat melihat ke belakang, komposTIFA sesungguhnya lahir dari semangat untuk sadar lalu berupaya membangun kepedulian dan mencari jalan untuk berbuat. Mimpi yang kami tulis dalam lembaran visualisasi masa depan saat itu, pelan dan perlahan mewujud. Mimpi untuk mewujudkanhanya  satu Rumah Baca di Kampung Arguni- Taver dengan mencoba untuk untuk meggalang dukungan dari berbagai pihak mendapat sambutan luar biasa disamping Gerakan kampanye Susatu dan Satusatu yang merupakan upaya swadaya mandiri kami. Dan alhasil, mimpi itu seakan membelah dan berwujud  menjadi Rumah baca ke dua di Desa Siboru. Project Bakti Sosial Kemah Bakti dan kampanye Sehat mendapat sokongan bukan hanya  moril tapi juga materiil dari pihak-pihak yang bahkan sebelumnya asing bagi kami. Berbuat kebajikanpun kemudian berkembang biak, beranak pinak dan berinovasi  dan semua itu seakan terjadi secara alamiah dan demikian mudahnya. Seakan membuktikan bahwa  Tuhan tak pernah ingkar Janji ( Dan Memang Ia selalu begitu). Ia akan selalu bersama orang-orang baik (apakah ini berarti kami para propos orang baik ? tet toot!!! ).

Rumah Baca KomposTIFA Arguni – Taver, Rumah Baca  KomposTIFA Siboru, Kemah Bakti KomposTIFA #1

Kegelisahan yang berkelindan kebingungan saat dana terjepit untuk peluncuran antrian project – project maslahat seakan tak pernah membuat kami kapok. Pertanyaan standar nyelekitseperti “hey punya uang berapa banyak untuk project ini ?” terdengar sama menariknya dengan pertanyaan “mau tidak berkencan dengan Nicholas Saputra?”. Tertantang, senang dan minder “ngerujak” jadi satu. Lalu ifrit di belakang kepala menyeringai dengan nakal,” tenang kawan kita punya mantra kan , bahwa niat baik akan selalu di mudahkan” (nih ifrit sudah insaf , karena sudah gabung sama Propos ). Dan semangat itu menyeruak lagi dengan membuat terobosan ide-ide jika boleh di bilang begitu ( meskipun Cuma level Fakfak ) dengan membuat event-event penggalangan dana tak biasa.

Ngafe liar yang sebenarnya pada bikin minder juga ( Ayo, propos yang sering ngafe…. Ngaku ?) atau pada takut juga dikejar-kejar Satpol PP saat operasi penertiban tempat umum  meski Fakfak tidak sesangar itu (sorry Om Satpol). Tapi mantra itu tetap menguatkan bahkan terus memantapkan langkah kami.

Ngafe “Liar” plus kampanye Susatu & SatuSatu

Event Nonton bareng Film Indie dan Sokola Rimba yang membuat kami harus pontang panting jualan kupon undian meski kemudian setelah  dihitung-hitung kami malah Minus  (hmmm, tra bikin ganas tuh!) “tara lah,kitong kan Propos, yang penting nilai maslahat dan pesan  tersampaikan” (nie kata ifrit lagi yang sudah  gabung jadi propos tadi) . Kepala kami terangkat lagi.

Nobar Film Sokola Rimba

Kami telah sakau, kami benar- benar kecanduan akan kebajikan. Meski ada saja sebagian orang akan mengatakan, tidak akan mungkin selamanya kita hanya menjadi lilin yang bakal habis terbakar untuk menjadi terang bagi sekeliling. Walau kami hilang musnah, tak mengapa kawan. Kami belajar tentang keikhlasan, kami belajar berbagi  dan paling utama kami belajar untuk memberi nilai manfaat dari karya kami,dan pilihan-pilihan kami saat inilah yang nantinya akan membentuk kami di masa datang.

Banyak kawan , sungguh banyak yang kami dapatkan dalam “kesakauan” ini. Berbuat baik menjadikan kami  mampu melangkah lebih jauh dari yang tak pernah terpikir sebelumnya. Bertemu orang baru , berinteraksi dengan dunia baru, menjejak tempat-tempat baru ( tidak jarang korban baru untuk di php, tra percaya boleh Tanya mimin kompostifa?! ) dan yang pasti keluarga baru. Kami menjadi anak ke 7 hingga ke 30 sekian untuk sebuah keluarga baru di Arguni setelah kakak ke enam kami, Tiwi ( apa kabar kaka Ibu di UK ? ).

Berani menempuh jalan berkilo-kilo meter dalam hujan badai  dikegelapan, dan terdampar di”keramahan” sebuah keluarga sederhana,jauh di pinggiran kota yang signal di daerah tersebut terdegradasi pada level “nyaris muncul”dan “kebanyakan hilang”. Menempuh lautan dalam gelap di bawah bintang yang sembunyi-sembunyi sedang dingin memaksa menembus bahkan hingga ke pori paling renik  sekalipun. Semua tak mengapa. Belum lagi tantangan internal kami, saat komitmen mulai mengabur, kejenuhan mulai mengintai, semua jiwa rentan sensitif  bahkan oleh candaan basi sekalipun.

21 Agustus 2016, Minggu, Kampung Ubadari, LPJ enam bulan pertama kami. Tahun- tahun pertama biasanya akan menjadi tahun-tahun terberat dalam sebuah organisasi bahkan hubungan apapun itu( itu menurut petuah bapak saya dan daku meyakini kebenarannya). Semangat yang meluap yang terus dikawal rapat kejenuhan, semangat menggebu yang terus diintai “kebosanan” yang siap menyusup dan menghancurkan,sesungguhnya menjadi penguji kesungguhan dan komitmen kami. LPJ bukan hanya sekedar laporan pertanggung jawaban formal tiap divisi, LPJ menjadi “Ladang Penguji Jiwa”, penguji ketatangguhan jiwa dalam berkomitmen. Dan “Lebih pada Penguatan Janji”, penguatan janji untuk tetap mampu menjaga kelurusan niat dan kejernihan hati. Aku selaku pribadi pun belajar bagaimana untuk berlapang dada , memiliki hati seluas alam raya dan jangkauan untuk merangkul seluruh hati dan karakter. Setelah kurang lebih 6 bulan bernaung dalam rumah bernama komposTIFA,secara internal aku belajar untuk memahami dan menerima bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan,bahwa menjadi berbeda sesungguhnya bukanlah musibah, menjadi berbeda sesungguhnya membuka pintu hikmah, bahwa tiap orang mempunyai cara-cara istimewa dalam berinteraksi.

14115666_1022128207901249_672561630532488163_oCAMERA

LPJ Semester 1 KomposTIFA. Setelah serius2an lanjut main2 air kiteee

LPJ adalah “Lembaga Pendewasaan Jiwa “.Kita belajar untuk menerima masukan, kritik atupun saran tidak hanya pujian sesungguhnya. Mengelola emosi untuk menerima masukan tak hanya pujian hakekatnya adalah salah satu cara untuk mengikis kesombongan dan bisa jadi cara untuk melembutkan hati. Berani mengakui kesalahan sesungguhnya adalah membentangkan jalan kemudahan dalam berkarya yang dengannya kita mengakrabkan diri dengan ide-ide cemerlang . Dan lalu aku mulai percaya, komposTIFA bukan hanya tentang anak-anak muda yang  dipertemukan dalam satu idealisme dan semangat yang sama. KomposTIFAsesungguhnya telah menjadi semangat itu sendiri. komposTIFA adalah semangat untuk berkarya, komposTIFA adalah semangat  untuk peduli dan berbuat karya-karya maslahat. Aku percaya,pertemuan kami orang-orang yang didalamnya adalah sesuatu yang telah ditetapkan dari jauh masa sebelum alam ini bernama. Aku adalah orang yang  tak mempercayai kebetulan. Bahwa bagiku, bukan kebetulan kami bertemu, bukan kebetulan kami bersama-sama dalam komposTIFA. Bahwa kami sesungguhnya telah ditakdirkan untuk bertemu  oleh karena satu alasan yaitu Kemanfaatan.

Lalu apa arti semua ini bagi kami? Dan apakah ini muara dari segala yang kami lakukan dan tujuan akhir kami ? Tidak! Semangat mengedepankan kemandirian yang menjadi ujung tombak gerakan kami dan semangat konspirasi dalam mewujudkan project-project maslahat yang menjadi motor penggerak kami, ia ibarat bumi yang terus berevolusi, ibarat angin yang terus berhembus,ibarat matahari yang tak lelah untuk bersinar. Dan hukum alam itu juga berlaku bagi kami yang artinya jika hukum alam itu masih berlaku di semesta raya ini, maka kami pun seiring selangkah dalam detak kehidupan yang sama.

Kami tak ingin hanya sekedar menjadi generasi yang pasif,yang defensive terhadap pembaruan maslahat. Yang hanya pandai dalam orasi tapi berada di titik nadir aksi.Kami bukan generasi yang hanya mengharapkan eksistensi  semu tanpa meninggalkan karya-karya berarti.Kami ingin menjadi pelopor tak hanya pengekor. Kami ingin jadi menjadi generasi yang turut menciptakan sejarah tak hanya sekedar belajar dari sejarah.

Tantangan kami selanjutnya adalah bagaimana dalam “kesakauan” , kami tidak terlena dan terjebak dalam jebakan-jebakan perasaan superior sesat dan sempit yang membuat kami enggan untuk membumi dan membumikan hati kami.Tidak membuat kami tinggi hati hingga lupa dari mana kami berasal dan semangat apa yang mendasari kami.Tidak ada keabadian dalam niat yang terkotori,dan kalaupun ada, ia abadi untuk menjadi bahan cemooh. Kami tak ingin meninggalkan di belakang kami semangat kekerdilan jiwa dalam ingatan-ingatan buruk tentang kami. Aku pun menyadari bahwa wacana tanpa eksekusi sesungguhnya adalah kehampaan.

Saat Refleksi di akhir LPJ,sama-sama kami mencoba untuk merasakan semangat itu. Dalam Genggaman tangan dan dalam mata terpejam. Kata orang yang kini juga telah menjadi kataku, genggaman bisa lebih jujur dari kata-kata, seperti halnya cahaya misterius dari mata yang memiliki daya magis mengisyaratkan yang lebih eksplisit dari sekedar lisan. Kawan ,Orientasi awal akan menentukan seberapa lama kita bertahan, seberapa jauh kita melangkah, dan seberapa teguh kita untuk tidak meyerah. Dan aku ( bisa jadi kami ) merasakan Genggaman itu makin keras. Ada disana, di genggaman itu, di sore itu, di aliran yang menenangkan, di Ubadari. Ikrar itu menguat lagi.Kawan, kami siap untuk menerbangkan mimpi lagi dan mengejarnya. Menjadi pemimpi dengan mimpi-mimpi yang  akan di kejar dan enggan hanya sekedar menjadi tuan diantara orang-orang yang nihil mimpi. Dan menyadur kata Rumi  satu dari beberapa orang yang  menginspirasiku “ Hush… dengarlah hatimu,,, kita, lebih dari segala kata”. Ya,  benar Propos kompostifa, kita telah pernah buktikan itu dan akan lagi membuktikan itu, “ kita lebih dari kata”.

Oktober 06,2016

SHW 🙂

KomposTIFA

 

Iklan

2 thoughts on “Mantra yang Menguatkan

  1. Terus berkarya. Terus menunduk ketika dipuji dunia. Terus mengangkat wajah ketika dihina.
    Mace pace, ko tara kosong o.

    nb: mama ida pu tulisan macam penulis novel handal e. beta pu dahi berkerut e baca de pu makna. 😛

    Semangat Propos!!!!!

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s