Propos Minggu Ini

Berhubung beberapa hari terakhir ini mimin sibu dan masalah jaringan juga, sooo… mimin baru nongol lagi buat ngenalin propos2 kece. kali ni langsung dua propos. Lansung aja yeee….

Citra Rizky Handayani biasa dipanggil Dede atau panggil Decit pun boleeeh. Propos kece satu ni berasal dr Ibu kota Papua Barat, Manokwari. Cewek tomboy pencinta Hello Kitty dan jg fans berat The Rain (cieee… The Rain Keepers ni ) sekarang bekerja d salah satu Badan Vertikal Pemerintah Kabupaten Fakfak. Di KomposTIFA Dia di percayakan sebagai Sekretaris Umum utk 1 tahun pertama KomposTIFA. Sebelum bergabung dgn KomposTIFA cewek perantauan kece satu ni semasa kulia sdh terlibat sebagai relawan diberbagai kegiatan sosial diantaranya Festival Gerakan Indonesia Mengajar, Berbagi Nasi Jakarta, Penanggung Jawab Utama Kelas Inspirasi Fakfak 2015, Festival Inspirasi dan masih bnyak lagi kegiatan sosial lainnya yg pernah dia ikuti.

dsc_0151

Dia adalah sufriyana ali atau biasa dipangggil upi. Propos yang kece satu ini di percayakan oleh propos lainnya dalam mengemban amanatnya sebagai koordinator divisi keuangan.propos lulusan sains kimia disalah satu universitas di kota makassar ini hobinya membaca buku dan doyan makan. Selain itu dia juga aktif dibeberapa kegiatan sosial semasa kuliah dan juga pernah menjadi relawan kelas inspirasi fakfak tahun 2015. Saat ini dia bekerja sebagai tenaga pengajar disalah satu sekolah dasar swasta dikabupaten fakfak.

15193434_1114125955368140_2170697690520163314_n

Iklan

Toleransi Sejatinya Menyamakan Frekuensi

Menempuh perjalanan menuju kesederhanaan bersama komposTIFA, selalu dan akan selalu ada petualangan – petualangan makna baru. Aku tak akan membicarakan hal – hal serius yang akan membuat sahabat hebat mengerutkan kening saat membacanya apalagi harus memburu kamus – kamus multi tafsir dari penerjemahan dalam seantero negeri. Hanya beberapa kisah sederhana yang sedikit banyak menyentuh sisi sensitifku dan berharap bias membuka pemahaman banyak orang  agar memiliki kepekaan dan empati saat berinteraksi dengan masyarakat tempatku lahir dan dibesarkan.

Kawan, bagiku sebagai seorang muslim,  dalam setiap perjalananku, telah menjadi keharusan untukku menyempatkan diri meletakkan kening di tempat terendah dimanapun kaki melangkah. Kawan, ini bagiku sebagai wujud kesyukuran akan keleluasaan dan kemerdekaan yang akudapatkan. Dalam beberapa project petualangan makna bersama komposTIFA ataupun organisasi lain bahkan berseorangan pun, hal itu selalu nyaris aku lakukan jika tidak sedang berhalangan. Ini juga untuk mengingatkan ku agar selalu rendah hati, menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai yang dipegang orang di tiap daerah baru yang kupijak. Tulisan ini tidak dimaksud kan untuk sok menasehati ataupun sebentuk ceramah agama. Tidak kawan, tidak. Sebagai mana judul tulisan ini, Toleransi sejatinya Menyamakan Frekuensi adalah sekedar ingin membag isudut pandang dari aku yang seorang muslim merasa bagaimana penerimaan akan perbedaan dalam masyrakat dan lingkungan khususnya di Fakfak yang terkenal dengan filosofi religious varian “ satutungkutigabatu “.

Kawan, Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dalam suatu lingkungan yang mayoritas atau bahkan seratus persen memegang keyakinan yang sama dengan kita adalah tentu hal yang lumrah. Kita merasa bebas dan berada dengan lingkungan yang satu identitas, satu nilai. Lalu tentu akan menjadi lebih dari sekedar luar biasa saat kita melakukan itu di suatu tempat yang bahkan tak seorang pun “sama” dalam hal keyakinan dengan kita. Arguni adalah daerah yang mayoritas seluruh penduduknya sama denganku dalam hal keyakinan. Nuansa keagamaan (Islami ) demikian kental terasa disana. Siboru jelas suatu daera hlain yang ada di Fakfak yang seratus persen penduduknya berbeda keyakinan denganku. Aku belajar nilai toleransi sesungguhnya dari perjalanan – perjalanan sederhana ini. Saat melihat siaran di televisi, postingan-postingan di media sosial, saat para pakar bicara tentang teori-teori toleransi dari sudut pandang dan pendapat tokoh blah blah blah, kami yang melakukan perjalanan kesederhanaan ini, dan bertemu dengan orang – orang  sederhana ini langsung memahaminya dengan melihat masyarakat setempat mempraktekkannya dalam kehidupan nyata dan keseharian mereka. Nilai ini sungguh bukan kita dapatkan dari melanglang buana dari teori buku ini atau buku itu. Atau dari perjalanansatu seminar ke seminar lain. Orang- orang sederhana inimempraktekkan denganhatidanketulusan. Mempraktekkan dengan kesadaran yang sama tanpa memandang latar belakang tiap-tiap   kami,saya muslim mereka nasrani atau bahkan sebaliknya. Tapi berangkat dari nilai kebenaran mutlak bahwa kebaikan itu memiliki nilai yang general di semua keyakinan.

Bagaimana tidak tersentuh nyaaku , saat hendak melakukans holat di daerah nasrani lalu si empunya rumah dating dan mengambilkan air untuk ku berwudhu. Bagaimana tidak tersentuhnya aku, saat selasai berwudhu lalu sang em punyarumah menunjukkan pada ku ruangan terbaik yang ia punya di rumahnya yang sederhana, dengan sehelai tikar anyaman pandan yang tua sambil memberikan padaku sehelai handuk kecil milik anaknya yang bersih dan berkata polos, “pakai saja ini, milik Coki ( nama putranya )”  yang  dalam kesederhaan pikirannya atau keawaman akan keyakinan ku,bias saja wudhu adalah sejenis mandi kecil yang harus di keringkan. Ini indah kawan, indah dan menyentuh.

Lalu beberapa kisah konyol kami saat bingung mencari arah kiblat untuk sholat di daerah yang notabene adalah nasrani. Tiba di tempat tersebut saat nyaris tengah malam , tanpa mengetahui dimana arah matahari terbit dan tenggelam. Saat menjelang subuh,  hanya sekedar bertayamum lalu meniatkan sambil mencari-cari petunjuk arah kiblat. Sejatinya petunjuk akan selalu ada di sana. Dari jendela bekas ruang belajar tampak bulan condong hendak terbenam. Yup, di sanalah pasti arah barat, arah matahari terbenam. Dalam gelap mencekam dan dingin yang menikam tak ketolongan,  ditambah kelaparan hebat serta lelah diluar batas akibat perjalanan jauh, luruskan niatkan, sempurnakan takbir dan eksekusi Sholat Subuh. Kewajiban tertunai lalu menunggu matahari terbit. Dan Derrr , Matahari pun terbit dari arah bulan mencondongkan diri. Tidak jarang bahkan beberapa kali, saat beberapa dari kami hendak melakukan sholat di rumah warga yang nasrani tanpa tahu di mana arah kiblat, hanya melakukan saja dengan niat ibadah, lalu perkara syariat, seperti keabsahan menyangkut kesucian tempat, kemiringan dan keakuratan arah kiblat biarlah menjadi hitung-hitungan Tuhan saja.

Telah menjadi Rahasia umum dikebanyakan Pribumi Fakfak bahwa dalam satu rumah, satu marga,  ada tiga keyakinan dan itu tetap membuat mereka solid dalam berinteraksi. Perkara Ibadah bagi mereka adalah urusan orang pribadi, orang-perorang dengan Sang Pencipta. Namun perkara interaksi social sesame manusia, mereka sesungguhnya tetap keluarga, tetap sedarah. Prinsip hidup inilah, yang kemudian menjadi cikalbakal lahirnya Filosofi ‘Satu Tungku Tiga Batu. 3 keyakinan ( Islam, Kristen, Katholik ) untuk satu tujuan membangun Fakfak.

Nilai toleransi ini lahir karena bahasa umum yang telah tertanam dalam tiap-tiap kita sejak zaman purbakala, saat kita belum nberidentitas. Menyadur sedikit kata Soe Hok Gie, “kita begitu berbeda dalam banyak hal, kecuali satu yaitu Cinta “. Yah, Muslim, Nasrani, Hindu, Budhha ataupun Khonghucu sesungguhnya punya nilai general ini dan sama. Cinta, kasih sayang. Kepedulian, berempati dan bersimpati seperti nyadari cintalah biangnya.  Bahkan dalam keyakinan yang ku anut pun, Tuhan menamakan dirinya sendiri dengan Ar – Rahman, Ar – Rahiim yang artinya Yang Maha Penyayang, Maha Pengasih. Bukan kah Nyaris dari kita semua meyakini bahwa kita diciptakan oleh Pemilik Semesta? Dan Citra diri kita sesungguhnya sedikit banyak cerminan dari Citra Sang Pemilik semesta? Bahwa kemudian belakangan mulai marak beberapa orang yang mendakwakan diri seakan sebagai wakil Tuhan yang memiliki hak mutlak untuk menghakimi nyaris menyamai Tuhan, tentang benar salah dan hidup mati lantaran pernyataan yang bias jadi salah ucap atau keawaman, aku hanya mengelus dada. Tidaka kan pernah ketemu saat kita berbicara toleransi dengan frekuensi berbeda. Yang satu dengan nada kebencian dan prasangka, sedang yang satu dengan keawaman akibat terbatasnya pengetahuan dan pemahaman.

Hey, kalau mau belajar toleransi, mari keFakfak. Biar orang-orang sederhana ini mengajarkan pada kalian apa itu toleransi. Toleransi seharusnya cara kita berkomunikasi dengan frekuensi yang sama yaitu cinta. Bukan bahasa Fanatisme berlebihan. Menjadi Fanatik dalam beragama bagiku baik, namun saat kita mulai memaksakan Fanatisme berlebihan kepada orang lain agar sama fanatiknya dengan kita, jelas bias jadi kita sudah tidak lagi berada dalam kebhinekaan yang menjadi Simbolisme KzAe-Indonesiaankita.

Sahabat hebat, kemajemukan sesungguhnya adalah kekuatan yang membuat kita mampu berdiri hingga saat ini. Fakfak tempatku lahir dan dibesarkan mengajarkan nilai ini padaku, pada kami. Perbedaan semestinya menjadi berkah dan anugerah untuk bias saling memahami. Dan masih dalam momentum Ulang Tahun Fakfak, Kota Tertua di Pulau Papua yang ke 116 tahun, 16 November 2016, dan Juga Hari Toleransi Nasional, mari samakan “Frekuensi” toleransi kita untuk tetap menjaga Kebhinekaan, untuk mengembangkan potensi diri, berkontribusi bagi negeri demi kemajuan bersama. Tetap semangat Sahabat hebat. Selalu, Semangat Konspirasi Positif.

November, 26, 2016

SHW 🙂

Propos Mingu Ini

Hello saturday,hope enjoy your weekend positivers.

Ariani naiborhu atau yang biasa di panggil arino itulah namanya.Propos kece yang stylist satu ini gemar membaca buku.Propos yang baik hati dan tidak sombong ini adalah sarjana lulusan ekonomi manajemen di salah satu perguruan tinggi swasta di kota jambi.selain penampilanya yang stylist dia juga sangat peduli dengan kehidupan sosial di sekitarnya terutama pendidikan anak-anak.saat ini dia bekerja di salah satu bank swasta di kabupaten fakfak.

15027426_1098144476966288_3717848090151419645_n

“SEPENGGAL KISAH ARGUNI”

Sebelumnya beta kas tau beta pu nama dolo ee,, beta pu nama citto…

Hari itu yang beta ingat hari sabtu,, tanggal su lupa maklum penderita pelupa akut biasa saya namakan itu,,heheheh  Oke beta lanjut,,,, kira2 jam 9 pagi dapat info dari kitong pu ketua katanya kitong su bisa pi arguni sore itu juga  untuk visite evaluasi yang perdana. Respon yang pertama kali keluar dari mulut beta “what???? Kenapa tra sekalian sejam sebelum keberangkatan??? Jujur itu perencanaan yang sangat2 mendadak kalo beta pikir….. Tapi yah,, mo bagaimana lagi namanya juga tanggung jawab,,,karena merasa itu tanggung jawab,, beta lalu mengajukan diri untuk pergi kesana..pikir2 juga su lama beta tra kesana ,,rindu deng de pu suasana kampung. Setelah memutuskan menjdi salahsatu relawan yang akan ke siboru,,beta langsung cepat2 kas selesai pekerjaan kantor 14.00 wit tedenggggg waktunya pulang kantor,,,saatnya baberes tuk pi  argunni

Pulang lah itu ceritanya,, baru saja keluar dari tempat kerja eh tra disangka sangka beta pu ban motor picah,,,bingunglah sayanya. Berhenti sejenak tuk befikir dolo,, kira2 bagaimana selanjutnya??? Karena masalahnya kuraang lebih 2 jam lagi kitong su mo pi ke arguni ….Bukan citto namanya kalo tra mencoba,,,akhirnya beta mencoba beranikan diri untuk meluncur mencari bengkel terdekat,,Alhamdulillah dapat bengkel tra pake lama minta tolonglah saya tuk ban motor ditambal,, lagi sementara menunggu beta pu mama telepon.

Mace  : “ Assalamualaikum kaka,,dimana???kenapa belom pulang

Beta    :“ wa”alaikumsalam ban motor picah mam,, jadi ada singgah di bengkel dekat rumah sakit dolo..

Seketika percakapan ditelepon terputus hmmmm Beberapa menit kemudian ternyata sang mama tercinta tiba di bengkel yaaah begitulah cinta seorang ibu kepada anakanya. Kurang lebih 10 menit kemudian beta motor su selesai. Pulanglah ceritanya ini ternyata eh ternyata belom sampe ke rumah ban motor pecah lg cek per cek montir di bengkel itu salah tambal ban, entahlah bagaiman cara kerjanya disitu kadang beta rasa heran Terpaksa dengan berat hati berkolaborasi dengan sedih hati,  akhirnya sa pergi mencari bengkel lagi dengan pikiran su kemana mana (sebenarnya sih takut di kas tinggal ke arguni hahahaha)

Supaya cepat,,sa ambil keputusan untuk mengganti ban baru tra sampe 5 menit su jadi,, bergegaslah beta pulang,,,, sampainya dirumah tanpa basa basi beta kas siap2 peralatan yg bakal beta bawa pi ke arguni,, tra smpe 10 menit z su siap tra pake mandi lagi,,wkwkwkw  Ya begitulah kehidupan simple beta.

Tik…tok..tik..tok.. jam berdetak,, tra sadar kitong terlambat sejam dari kesepakatan keberangktan. Bismillahirahmanirahim akhirnya menuju Arguni. Gengs, sekedar info kalau mau ke Arguni mesti ke Kokas dulu nah nanti sampai Kokas baru naik jonson (long boat) ke Arguni kurang lebih setengah jam. Oke beta lanjut eee… sampai di Kokas itu su maghrib jadi kitong singgah tuk sholat dolo. Selesai sholat sa dengan teman – teman singgah beli cemilan. Begini kitong duduk2 tunggu jemputan karena ragu akhirnya kitong coba telpon Bapa Oni tuk memastikan. Oh iya gengs Bapa Oni ini adalah orang tua angkat kitong di kampung Arguni su tidak ada kata2 yang bisa tertuliskan klo mo cerita soal kebaikan beliau sekeluarga. Tadinya su mo putus asa tapi selain putus asa di benci Allah SWT kitong pu semboyan “segala niat baik pasti ada jalan” yang buat kitong semangat lagi.

Akhirnya begini Bapa Oni jawab telepon, beliau sempat kaget tra percaya kitong su di Kokas sampe bertanya dua kali hahahaha.

Gengs kamong tau, kitong pu perjalanan ke Arguni su malam eee padahal su niat nikmati sunset tengah laut lagi bruuu, yang ada kitong nikmati gelapnya dunia ditengah laut tra bisa liat apa2 hahahahaha. Setengah jam perjalanan sampailah kita di Arguni sampai di rumah kitong langsung makan melepas kangen dengan keluarga disana dan tidoooorrrrrr.

Keesokan paginya sebelum kitong lakukan tujuan yang sudah kitong rencanakan, karena masih pagi kitong berempat pi menikmati suasana pagi yang menenangkan dolo, kan su pi jauh2 begini tra afdol kalo tra foto2 biar dikata kekinian hehehehe. Su asyik2 foto2 bgni, tra rasa su mo jam 10 pagi saatnya pulang siap2 tuk pi di kitong pu rumah baca ketemu dengan adek2 TK maupun SD.

Kegiatan kitong saat itu seruu sekali karena baik guru maupun anak2 muridnya sangat kooperatif. Banyak kegiatan yang kitong bikin saat itu dari mendongeng, mengenal nusantara melalui peta, dan belajar bahasa inggris belum lagi kitong bikin permainan susun kata deng pipa bocor siapa yang menang dapat hadiah tentunya.  Kegiatan itu kitong bikin pas matahari panas apa laeee… tapi itu tra jadi penghalang kitong tetap semangat.

Akhirnya tra rasa kegiatan yang kitong bikin dari siang selesa di sore hari,, karena su sore juga tra pake lama lagi kitong pamitlah tuk kembali ke Kokas dan menuju pulang ke rumah masing2. Selama perjalan dari Arguni sampai ke Kokas kitong pu mata di manjakan dengan pemandangan pu bagus apa laeeee Gugusan pulau2 berderet sampai yang tersirat diikiran, Masyaa Allah ciptaan sang Pencipta.

Mungkin sampai sini dulu sapu cerita eeee,, nanti kapan2 baru sa cerita pengalaman2 seru yang lain..

Assalamu’alaikum…

November, 03, 2016

Citto_Bede

dsc_0007

4 Srikandi komposTIFA yg “Nekad” Nyebrang laut malam2

CAMERA

Foto Bersama Adik2 dan Pengurus RBK Arguni-Taver Setelah Kegiatan