Toleransi Sejatinya Menyamakan Frekuensi

Menempuh perjalanan menuju kesederhanaan bersama komposTIFA, selalu dan akan selalu ada petualangan – petualangan makna baru. Aku tak akan membicarakan hal – hal serius yang akan membuat sahabat hebat mengerutkan kening saat membacanya apalagi harus memburu kamus – kamus multi tafsir dari penerjemahan dalam seantero negeri. Hanya beberapa kisah sederhana yang sedikit banyak menyentuh sisi sensitifku dan berharap bias membuka pemahaman banyak orang  agar memiliki kepekaan dan empati saat berinteraksi dengan masyarakat tempatku lahir dan dibesarkan.

Kawan, bagiku sebagai seorang muslim,  dalam setiap perjalananku, telah menjadi keharusan untukku menyempatkan diri meletakkan kening di tempat terendah dimanapun kaki melangkah. Kawan, ini bagiku sebagai wujud kesyukuran akan keleluasaan dan kemerdekaan yang akudapatkan. Dalam beberapa project petualangan makna bersama komposTIFA ataupun organisasi lain bahkan berseorangan pun, hal itu selalu nyaris aku lakukan jika tidak sedang berhalangan. Ini juga untuk mengingatkan ku agar selalu rendah hati, menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai yang dipegang orang di tiap daerah baru yang kupijak. Tulisan ini tidak dimaksud kan untuk sok menasehati ataupun sebentuk ceramah agama. Tidak kawan, tidak. Sebagai mana judul tulisan ini, Toleransi sejatinya Menyamakan Frekuensi adalah sekedar ingin membag isudut pandang dari aku yang seorang muslim merasa bagaimana penerimaan akan perbedaan dalam masyrakat dan lingkungan khususnya di Fakfak yang terkenal dengan filosofi religious varian “ satutungkutigabatu “.

Kawan, Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dalam suatu lingkungan yang mayoritas atau bahkan seratus persen memegang keyakinan yang sama dengan kita adalah tentu hal yang lumrah. Kita merasa bebas dan berada dengan lingkungan yang satu identitas, satu nilai. Lalu tentu akan menjadi lebih dari sekedar luar biasa saat kita melakukan itu di suatu tempat yang bahkan tak seorang pun “sama” dalam hal keyakinan dengan kita. Arguni adalah daerah yang mayoritas seluruh penduduknya sama denganku dalam hal keyakinan. Nuansa keagamaan (Islami ) demikian kental terasa disana. Siboru jelas suatu daera hlain yang ada di Fakfak yang seratus persen penduduknya berbeda keyakinan denganku. Aku belajar nilai toleransi sesungguhnya dari perjalanan – perjalanan sederhana ini. Saat melihat siaran di televisi, postingan-postingan di media sosial, saat para pakar bicara tentang teori-teori toleransi dari sudut pandang dan pendapat tokoh blah blah blah, kami yang melakukan perjalanan kesederhanaan ini, dan bertemu dengan orang – orang  sederhana ini langsung memahaminya dengan melihat masyarakat setempat mempraktekkannya dalam kehidupan nyata dan keseharian mereka. Nilai ini sungguh bukan kita dapatkan dari melanglang buana dari teori buku ini atau buku itu. Atau dari perjalanansatu seminar ke seminar lain. Orang- orang sederhana inimempraktekkan denganhatidanketulusan. Mempraktekkan dengan kesadaran yang sama tanpa memandang latar belakang tiap-tiap   kami,saya muslim mereka nasrani atau bahkan sebaliknya. Tapi berangkat dari nilai kebenaran mutlak bahwa kebaikan itu memiliki nilai yang general di semua keyakinan.

Bagaimana tidak tersentuh nyaaku , saat hendak melakukans holat di daerah nasrani lalu si empunya rumah dating dan mengambilkan air untuk ku berwudhu. Bagaimana tidak tersentuhnya aku, saat selasai berwudhu lalu sang em punyarumah menunjukkan pada ku ruangan terbaik yang ia punya di rumahnya yang sederhana, dengan sehelai tikar anyaman pandan yang tua sambil memberikan padaku sehelai handuk kecil milik anaknya yang bersih dan berkata polos, “pakai saja ini, milik Coki ( nama putranya )”  yang  dalam kesederhaan pikirannya atau keawaman akan keyakinan ku,bias saja wudhu adalah sejenis mandi kecil yang harus di keringkan. Ini indah kawan, indah dan menyentuh.

Lalu beberapa kisah konyol kami saat bingung mencari arah kiblat untuk sholat di daerah yang notabene adalah nasrani. Tiba di tempat tersebut saat nyaris tengah malam , tanpa mengetahui dimana arah matahari terbit dan tenggelam. Saat menjelang subuh,  hanya sekedar bertayamum lalu meniatkan sambil mencari-cari petunjuk arah kiblat. Sejatinya petunjuk akan selalu ada di sana. Dari jendela bekas ruang belajar tampak bulan condong hendak terbenam. Yup, di sanalah pasti arah barat, arah matahari terbenam. Dalam gelap mencekam dan dingin yang menikam tak ketolongan,  ditambah kelaparan hebat serta lelah diluar batas akibat perjalanan jauh, luruskan niatkan, sempurnakan takbir dan eksekusi Sholat Subuh. Kewajiban tertunai lalu menunggu matahari terbit. Dan Derrr , Matahari pun terbit dari arah bulan mencondongkan diri. Tidak jarang bahkan beberapa kali, saat beberapa dari kami hendak melakukan sholat di rumah warga yang nasrani tanpa tahu di mana arah kiblat, hanya melakukan saja dengan niat ibadah, lalu perkara syariat, seperti keabsahan menyangkut kesucian tempat, kemiringan dan keakuratan arah kiblat biarlah menjadi hitung-hitungan Tuhan saja.

Telah menjadi Rahasia umum dikebanyakan Pribumi Fakfak bahwa dalam satu rumah, satu marga,  ada tiga keyakinan dan itu tetap membuat mereka solid dalam berinteraksi. Perkara Ibadah bagi mereka adalah urusan orang pribadi, orang-perorang dengan Sang Pencipta. Namun perkara interaksi social sesame manusia, mereka sesungguhnya tetap keluarga, tetap sedarah. Prinsip hidup inilah, yang kemudian menjadi cikalbakal lahirnya Filosofi ‘Satu Tungku Tiga Batu. 3 keyakinan ( Islam, Kristen, Katholik ) untuk satu tujuan membangun Fakfak.

Nilai toleransi ini lahir karena bahasa umum yang telah tertanam dalam tiap-tiap kita sejak zaman purbakala, saat kita belum nberidentitas. Menyadur sedikit kata Soe Hok Gie, “kita begitu berbeda dalam banyak hal, kecuali satu yaitu Cinta “. Yah, Muslim, Nasrani, Hindu, Budhha ataupun Khonghucu sesungguhnya punya nilai general ini dan sama. Cinta, kasih sayang. Kepedulian, berempati dan bersimpati seperti nyadari cintalah biangnya.  Bahkan dalam keyakinan yang ku anut pun, Tuhan menamakan dirinya sendiri dengan Ar – Rahman, Ar – Rahiim yang artinya Yang Maha Penyayang, Maha Pengasih. Bukan kah Nyaris dari kita semua meyakini bahwa kita diciptakan oleh Pemilik Semesta? Dan Citra diri kita sesungguhnya sedikit banyak cerminan dari Citra Sang Pemilik semesta? Bahwa kemudian belakangan mulai marak beberapa orang yang mendakwakan diri seakan sebagai wakil Tuhan yang memiliki hak mutlak untuk menghakimi nyaris menyamai Tuhan, tentang benar salah dan hidup mati lantaran pernyataan yang bias jadi salah ucap atau keawaman, aku hanya mengelus dada. Tidaka kan pernah ketemu saat kita berbicara toleransi dengan frekuensi berbeda. Yang satu dengan nada kebencian dan prasangka, sedang yang satu dengan keawaman akibat terbatasnya pengetahuan dan pemahaman.

Hey, kalau mau belajar toleransi, mari keFakfak. Biar orang-orang sederhana ini mengajarkan pada kalian apa itu toleransi. Toleransi seharusnya cara kita berkomunikasi dengan frekuensi yang sama yaitu cinta. Bukan bahasa Fanatisme berlebihan. Menjadi Fanatik dalam beragama bagiku baik, namun saat kita mulai memaksakan Fanatisme berlebihan kepada orang lain agar sama fanatiknya dengan kita, jelas bias jadi kita sudah tidak lagi berada dalam kebhinekaan yang menjadi Simbolisme KzAe-Indonesiaankita.

Sahabat hebat, kemajemukan sesungguhnya adalah kekuatan yang membuat kita mampu berdiri hingga saat ini. Fakfak tempatku lahir dan dibesarkan mengajarkan nilai ini padaku, pada kami. Perbedaan semestinya menjadi berkah dan anugerah untuk bias saling memahami. Dan masih dalam momentum Ulang Tahun Fakfak, Kota Tertua di Pulau Papua yang ke 116 tahun, 16 November 2016, dan Juga Hari Toleransi Nasional, mari samakan “Frekuensi” toleransi kita untuk tetap menjaga Kebhinekaan, untuk mengembangkan potensi diri, berkontribusi bagi negeri demi kemajuan bersama. Tetap semangat Sahabat hebat. Selalu, Semangat Konspirasi Positif.

November, 26, 2016

SHW 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s