Kelas Cerdas Bersama Buku Untuk Papua via Telegram

Minggu, 27 Agustus 2017 KomposTIFA diwakili oleh kakak Saida Husna Wokas selaku penanggungjawab KomposTIFA di periode 2017-2018 mendapatkan kesempatan menarik dari kegiatan yang tidak kalah menarik gagasan Buku Untuk Papua yaitu Kelas Cerdas. Melalui aplikasi telegram selama kurang lebih selama 4 jam yang dimulai pada pukul 17.03 WIT sampai berakhir di 21.04 WIT kelas cerdas dilaksanakan dengan cukup ramai audiens/peserta talkwhow, kelas cerdas kali ini di moderatori oleh kak Dayu Rifanto.

Teman-teman yang mau ikut talkshow kelas cerdas tiap bulan dengan narasumber baru, bisa bergabung di kelas cerdas via telegram disini https://t.me/KelasCerdas 🙂 seru!!!

Yang tidak sempat mengikuti live chatnya, bisa disimak dari draft chat dibawah ini. 😀

Selamat belajar bersama Kelas Cerdas dan KomposTIFA

—————————————————————————————————————————-

Selamat sore semuanya, sampai ketemu di Kelas Cerdas satu jam yang akan datang yang menghadirkan Kak Ida Wokas dari Kompos Tifa Fakfak.

#Moderator :

Shalom, Assalamualaikum wr wb, Salam sejahtera dan selamat sore buat kita semua.

Perkenalkan, saya Dayu Rifanto ( WA dan Telegram 081222967475) yang akan menjadi moderator dari Kelas Cerdas BUP, sore ini kita akan belajar bersama di KelasCerdas dimana kami mengundang Kaka Ida Wokas dari Kompos Tifa

 Harapannya dengan kegiatan ini kita bisa belajar bersama, memperkaya ide, beraksi dan berkolaborasi untuk membuat inisiatif-inisiatif baik ke depannya.

Buat kaka audiens atau peserta talkshow, diakhir sesi pertanyaan dari moderator, kitong buka maksimal 3 pertanyaan dari audiens yang ikut menyimak yang bisa dikirimkan kepada moderator, untuk diteruskan kepada narasumber.

 Dan dari 3 peserta yang bertanya itu, akan ada satu orang yang beruntung akan mendapatkan sebuah totebag dari Bukuntukpapua spesial buat kamu 🙂

Tra mau panjang lebar karena su tra sabar lagi, kami mempersilahkan Kaka Ida Wokas untuk memperkenalkan diri dahulu sebelum kita akan mulai dengan pertanyaan yang telah disiapkan, buat kaks peserta semuanya selamat belajar bersama. Hormattt

 #Narasumber :

Hallo juga Kak Dayu dan Salam untuk teman-teman Kelas Cerdas semuanya. Semangat Konspirasi Positif !!! Sebelumnya terima kasih untuk Kak Dayu yang telah bersedia melibatkan kami, komposTIFA untuk berbagi di Kelas Cerdas edisi Agustus 2017. Perkenalkan nama saya Saida Husna Wokas, biasanya dipanggil Saida atau Ida. Saya lahir dan besar di Fakfak. Aktivitas terakhir saya saat ini selain bergiat bersama beberapa teman-teman di komposTIFA saya bekerja sebagai Karyawan Swasta disebuah Perusahaan Suplier Barang dan Kebutuhan Pokok di Fakfak.

Lalu tentang Kegiatan sebelum membuat  komposTIFA, selain rutinitas pekerjaan beberapa kali bersama beberapa teman dan juga komunitas pernah membuat  kegiatan  kerelawanan yang berbasis social dan pendidikan diantarannya Kelas Inspirasi Fakfak Pertama awal 2015 dan Festival Inspirasi dan Permainan Tradisional 2015.

#Moderator :

Terimakasih kembali Kaka, sudah berkenan mau berbagi cerita tentang komunitas Kompos Tifa yang kaka dan kawan – kawan lain buat ini.

Tentu banyak orang yang penasaran bagaimana ceritanya, dan sebelumnya kita sapa dulu ada yang dari Seram, dari NTT, Bandung, Manokwari, Merauke, Sorong, Nabire, Jayapura yang lagi pantau talkshow kali ini.

Oh jadi Kaka ini lahir dan besar di Fakfak eh, siap. Su(dah) jadi orang Fakfak berarti nih :). Dan sudah sering buat kegiatan kerelawanan di Fakfak eh..baik2..boleh diceritakan kah kaka, mengapa punya ide membuat kompos tifa ? ada problem apa yang dirasakan di Fakfak yang kemudian memicu mendirikan komunitas literasi ini ?

#Narasumber :

Wah salam kenal teman-teman semua…

Pada dasarnya keinginan untuk membuat sebuah komunitas yang mewadahi segala kegiatan positif telah lahir saat awal-awal tahun 2015.Waktu itu saya dan beberapa teman dipertemukan disebuah kegiatan yang digagas oleh teman-teman dari Fakfak Mengajar bersama Indonesia Mengajar angkatan VIII pada sebuah Proyek Kerelawanan bertajuk Fakfak Menginspirasi.

Selepas dari Proyek itu beberapa dari kami masih lagi dipertemukan untuk proyek-proyek lainnya yang seakan sambung menyambung hampir sepanjang tahun 2015.

# Narasumber :

Bahwa kemudian kami melihat sesungguhnya ada begitu banyak potensi yang ada pada anak muda Fakfak namun ruang untuk mengekspresikan itu terbatas bahkan bisa dibilang nihil. Hingga kemudian disekitar akhir bulan November 2015 saat kami mulai vakum dari event kerelawanan yang belum terorganisir (dalam artian setelah kegiatan bubar, ada kegiatan baru kumpul lagi dan belum ada satu “bendera” yang kita pakai), salah seorang teman Pengajar Muda angkatan X Pratiwi Hamdhana menghubungi saya.

Ia menceritakan tentang keinginannya untuk membuka Rumah Baca di daerah penempatannya di kampung Arguni Fakfak. Kami memiliki pandangan yang sepaham terkait minat baca yang rendah di Fakfak. Jangankan untuk wilayah perkampungan yang terisolasi dan jauh dipelosok. Untuk wilayah dalam kota Fakfak saja, jika melihat dari tingkat kunjungan ke perpustakaan sungguh sangat memprihatinkan. Kami sepaham bahwa, meningkatkan minat baca ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja atau pihak sekolah saja namun sudah saatnya untuk kita diluar elemen formal ambil bagian juga. Minat baca rendah bukan karena masyarakat tidak mau membaca tapi bagaimana kita menciptakan, menghadirkan iklim itu.

Dari situlah kemudian kami intens melakukan pertemuan, saya coba menghubungi beberapa teman yang semangat kerelawanannya luar biasa, dan mereka antusias sekali. Lalu kemudian tercetuslah ide, untuk membuat sebuah komunitas yang kami namakan komunitas muda positif fakfak dengan pilot project kami Rumah Baca komposTIFA Arguni.

#Moderator :

Oh jadi setelah kegiatan selesai, lalu ada ide buat rumah baca dari relawan pengajar Indonesia Mengajar dan kemudian ini mengkristalisasi jadi mengapa tidak buat komunitas literasi saja begitu ya, dan kemudian teman – teman yang punya kerinduan yang sama satu per satu mendukung komunitas ini. Berarti Kompos Tifa itu dari Komunitas Muda Positif Fakfak yaa ooo begitu eh.

Dan minat baca rendah bukan karena orang tra suka membaca, tapi lebih sebab bukunya saja tidak ada, maka komunitas seperti ini menghadirkan buku – buku bacaan mendekatkan diri pada warga yaa kaka.

Baru ada kendala saat proses merumuskan ide bersama dan mendirikan komunitas ini kaka ? siapa – siapa sajakah yang mendukung pada awal mulanya ?

#Moderator :

Mohon doa dari sobat semua supaya sinyal dan listrik aman-aman di Fakfak eh, biar diskusi kali ini lancar, dan mengingatkan yang mau bertanya kepada Kaka Ida bisa ditujukan kepada moderator dahulu dan akan diteruskan ke Kaka Ida, dan ini nomer wa/telegram moderator (081222967475)

Terimakasih

#Narasumber :

Yup, kurang lebih seperti itu kaka. Bicara kendala  Tidak bisa pungkiri bahwa dalam mendirikan sebuah organisasi apapun itu, kendala tetap ada. Namun Alhamdulillah semangat awal dan keyakinan yang coba kami bangun bersama teman-teman  Propos ( Provokator Positif – sebutan bagi relawan komposTIFA ) yang kemudian menjadi semacam “mantra penguat” bagi kami yaitu bahwa segala niat baik itu pasti selalu dimudahkan membuat kami mampu melewatinya.

Dan itu terbukti dari begitu banyaknya kemudahan dan bantuan baik moril dan materiil dari berbagai pihak saat Peresmian komposTIFA sekaligus peluncuran Pilot Project kami, Rumah Baca komposTIFA (RBK) Arguni.

#Narasumber :

Dari kita kumpul-kumpul awal untuk diskusi, lalu penggalangan donasi dana dan buku, perbaikan bangunan untuk rumah baca hingga pengurusan legalitas ke Badan Kesbangpol dan Linmas Fakfak  bisa dibilang cukup kilat. Efektifnya sekitar 2 bulan. Dan itu luar biasa bagi kami.

IMG_20170830_175932

RUMAH BACA komposTIFA Arguni, PILOT PROJECT kami

#Narasumber :

Banyak pihak yang mendukung kami saat pendirian komposTIFA khususnya Peluncuran Project Pertama kami. Yang pertama seperti yang sudah saya sebut diawal tadi yaitu Pratiwi Hamdhana. Dia Pengajar Muda Indonesia Mengajar angkatan X untuk daerah penempatan Arguni.

Oh ya, sekedar info tambahan, kampung Arguni secara geografis terletak di sebelah utara kota Fakfak. Perlu waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam melewati jalur darat membelah gunung dan lalu menyeberangi lautan sekitar kurang lebih 45 menit.

Terkait dukungan donasi buku-buku awal kami dapatkan juga dari teman-teman Penyala Makassar dan juga Gerakan Swadaya kami sendiri yang kami namakan Gerakan Satusatu atau Sahabat Tangguh Untuk Satu Juta Buku. Dan terkait dana sendiri kami juga pernah menggalang dukungan dana lewat kitabisa.com dan juga gerakan swadaya kami yang kami namakan Gerakan SuSATU atau seribu untuk satu juta buku.

IMG_20170830_175935Kampanye Tong babat dan Satusatu di salah satu jalan Protokol di Fakfak

 #Moderator :

Jadi Kampung Arguni nih hitungannya cukup jauh juga untuk sampai disana. Oh iya, kalau tadi ada gerakan SuSATU, ada juga kampanye Tong Babat, boleh diceritakan kk, apa saja program dari Komunitas Kompos Tifa ini ?

IMG_20170830_175938Kampanye SuSATU di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Di Fakfak

#Narasumber :

Jadi pada dasarnya Program dari komposTIFA terkait Pengembangan minat baca ini ada beberapa. Yang pertama terkait Penggalangan Buku kami namakan Gerakan Satusatu kepanjangannya Sahabat Tangguh Untuk Satu Juta Buku.

Kampanye ini mengajak orang untuk menyumbang minimal satu buku saja. Lalu terkait Pendanaan kami mengkampanyekan Gerakan SuSATU yang kepanjangannya adalah Seribu Untuk Satu Juta buku, yang mana kegiatan ini mengajak siapapun untuk menyumbang seribu rupiah untuk operasional Rumah Baca yang kami bangun.

Sedang “Tong babat” sendiri, merupakan tagline dari Rumah Baca komposTIFA sendiri yang merupakan kepanjangan dari ” Kitong Baca, Kitong Hebat”

#Narasumber :

Satu program baru kami untuk tahun ini kami namakan Ransel Propos. Jadi kegiatan ini semacam kita jalan-jalan ke kampung-kampung dengan Ransel yang berisi buku dan kemudian kita gelar dan mengajak adik-adik atau masyarakat untuk membaca. Ini juga sekaligus juga merupakan penjajakan awal bagi kami untuk kemungkinan membuka Rumah baca baru

IMG_20170830_175941

Ransel Propos di Kampung Kotam sekitar 1 jam dari Kota Fakfak ke arah Timur

 IMG_20170830_175944

Ransel Propos di kampung Wambar, arah timur kota Fakfak sekitar 2 jam

 #Moderator : Ada kampanye ruang baca di alam bebas, sambil baca sambil lihat pantai dengan air laut jernih..macam indah sekali 🙂

Jadi ada program membangun ruang baca, juga ada ransel Propos, gerakan SuSATU sebagai media kampanye dan donasi dan sudah gunakan platform crowdfunding juga seperti Kitabisa.com wah mantap

 Jadi sejak berdiri sampai sekarang Kompos Tifa sudah mengelola berapa rumah baca ?

Ada cerita menarik apa dari rumah baca ?

 #Narasumber :

Alhamdulillah saat ini kami telah menginisiasi sekitar 4 Rumah Baca yaitu RBK Arguni, RBK Siboru, RBK Efata, RBK Viktoria Kriawaswas.Yang terakhir kami sebut baru diinisiasi awal Agustus kemarin. Kami juga membangun kemitraan dengan Pondok Baca Brongkendik yang merupakan Rumah Baca yang telah jauh ada sebelum komposTIFA lahir dan juga Rumah Pniel Pikpik.

Sebelumnya mohon maaf dulu ya teman-teman. Fakfak lagi hujan, kalo agak terganggu signal mohon dimaklumi ya

IMG_20170830_175946 Peluncuran RBK Efata

 IMG_20170830_175949

RBK Arguni

 IMG_20170830_175951

Mitra kami Rumah Baca Pniel kampung Pikpik, sekitar 2 jam perjalanan di arah Pegunungan Fakfak

 #Narasumber :

Tiap-tiap rumah baca punya cerita menarik. Selain RBK Efata, yang lainnya berada diluar kota Fakfak. Perlu menempuh perjalanan jauh untuk sampai ke sana. Baik melewati darat maupun menyeberang laut. Dan salah satu perjalanan yang cukup dramatis yaitu saat kami menuju kampung Siboru.

Kami kesana Sabtu waktu itu. Menunggu sebagian teman-teman selesai bekerja. Hujan Cukup deras Sore itu. Estimasi waktu kesana paling tidak 2 jam dengan kondisi jalan yang tidak mulus. Buku-buku dan perlengkapan lain kami angkut menggunakan mobil yang kami sewa. Sedang selebihnya dengan kendaraan bermotor

Tantangan yang luar biasa saat itu. Kami tiba dititik penyeberangan yang sama sekali tidak ada signal dalam kondisi hujan deras yang belum reda dan malam. Perumahan penduduk jarang. Dan alhasil kami tidak berhasil menghubungi kepala kampung untuk menjemput kami. Bisa bayangkan seberapa “horror” malam itu.

Namun tekad kami tetap utuh, Siboru adalah tujuan kami. Dan malam itu kami memutuskan untuk berteduh dirumah salah seorang warga yang cukup terpencil. Mengatur lagi rencana. Signal yang labil dan kebanyakan hilang tetap membuat kami terus mencari hubungan. Dan setelah mencoba mengirim pesan ke teman di kota yang kemudian mencoba menghubungi kepala kampung, perahu jemputan kami tiba sekitar jam 20.00 WIT malam lewat.

Sempat berbeda pendapat dengan beberapa teman pada malam itu. Apakah menunggu pagi baru kita menyeberang atau tengah malam ini juga dengan barang sedemikian banyak. Dan akhirnya kami memutuskan untuk tetap menyeberang malam itu juga dengan membawa sebagian barang saja, sedang sisanya akan diangkut pagi besok. Kami berlayar menembusi malam itu di jam 23.00 WIT. Itu benar-benar pengalaman yang luar biasa.

IMG_20170830_175953 RBK Kampung Siboru, 2 jam ke arah barat Kota Fakfak

 #Moderator :

 Malam – malam baru trada sinyal di orang punya tempat lagi..memang sinyal nih hilang – hilang tra jelas di Papua nih hehe.

 Berarti su ada 5 ruang baca yang dikelola bersama warga, baru bagaimana anggapan warga masyarakat saat ada Kompos Tifa yg kemudian berjejaring dengan banyak pihak mengelola banyak ruang baca untuk mendukung bacaan menarik bagi warga ?

 #Narasumber :

 Sebagian besar menyambut baik kehadiran kami. Beberapa Sekolah yang pernah kami datangi untuk memperkenalkan komposTIFA dengan kampanye Satusatu dan SuSATU sangat antusias. Terlebih warga masyarakat kampung dimana Rumah Baca KomposTIFA berdiri.

 Alhamdulillah sampai sejauh ini tidak ada masyarakat yang menolak keberadaan kami, malah beberapa sangat berharap agar kami bisa segera membuka lagi dikampung-kampung lain. Insya Allah itu akan menjadi bagian dari rencana kami kedepan.

 #Moderator :

 Jadi warga sangat mendukung ya kk, semoga pemerintah juga demikian :).

 Sa baca di blog Kompos Tifa  ada rumah baca yang menggunakan Mushola dan ruang kelas di SD YPK di Fakfak, boleh ceritakan tentang hal tersebut, pasti teman – teman lain ingin tahu ceritanya ? Oh iya, dan kalau kawan – kawan disini ingin mengikuti perkembangan Kompos Tifa bisa lihat dimana atau follow media sosial apa ?

 #Narasumber :

 Insya Allah, bukan hanya pemerintah tapi juga masyarakat luas harapannya… amien 🙂

 Iya, benar sekali kak Dayu. Rumah Baca pertama komposTIFA yang merupakan pilot project kami di kampung Arguni merupakan bekas Musholla. Awalnya merupakan musholla sekolah lalu kemudian sudah lama tidak digunakan karena Masjid Kampung yang telah direnovasi berada dekat dengan sekolah. Saat ide berdirinya rumah baca ini, kami mendapat dukungan luar biasa dari pihak sekolah, khususnya Ibu Kepala Sekolah Dasar di Arguni, Ibu yani. Beliau yang langsung menawarkan bekas bangunan ini. Tugas kami selanjutnya tinggal mengecat  ulang dan memperbaiki beberapa bagiannya saja.

 Tambahan informasi, Kampung Arguni sendiri secara sosiologis adalah kampung dengan mayoritas penduduknya 100% muslim. Lalu untuk Project kedua kami di kampung Siboru adalah wilayah secara  yang sosial mayoritas penduduknya 100% nasrani. Yang kami gunakan sebagai Rumah Baca di Siboru sendiri adalah bekas PAUD yang juga berada di lingkungan SD YPK Kampung Siboru. Pihak sekolah sangat antusias mendukung kami.

 Bahwa kemudian setelah melihat lagi, ternyata apa yang kami lakukan sesungguhnya telah mewakili filosofi masyarakat Fakfak yang sangat menjunjung tinggi toleransi beragama, satu tungku tiga batu. Kami melakukan ini tanpa mengkotak-kotakkan asal-usul dan latar belakang. Tetapi jauh dari itu semua, sejatinya tentang Kemanfaatan. Orientasi Kemanfaatan semata.

 #Narasumber :

 Untuk teman-teman yang ingin tahu lebih banyak tentang komposTIFA bisa mengunjungi Laman Facebook kami komposTIFA atau akun kompostifa fakfak. Lalu Twitter atau Instagram kami @kompostifa.

 Beberapa tulisan juga bisa teman-teman baca di web kami kompostifa.org

 Untuk menjadi relawan pada dasarnya siapapun yang pernah menyumbang baik buku maupun dalam bentuk dana sudah kami anggap sebagai relawan. Namun untuk teman-teman yang mau terlibat dalam kegiatan kami secara organisasi kami mensyaratkan untuk menyumbang minimal 10 macam judul buku dan mengisi formulir Kak Dayu.

 #Moderator :

 Mengingatkan kepada sobat audiens Kelas Cerdas, kalau kaks dorang ada pertanyaan untuk Kak Ida Wokas dan Kompos Tifa bisa ditujukan ke Moderator dulu dan kemudian akan diteruskan kepada Narasumber.

 Terimakasih

 #Moderator :

 Terimakasih jawabannya kaka Ida, mengingat waktu sa lanjut dengan pertanyaan selanjutnya eh.

Kalau menurut Kaka Ida, bagaimana perkembangan literasi di Fakfak, terlebih setelah ada Kompos Tifa, apakah ada komunitas lainnya juga atau bagaimana perkembangannya sekarang ?

 #Narasumber :

 Sama-sama kak Dayu.

 #Narasumber :

 Kalau saya pribadi melihat perkembangan literasi di Fakfak masih belum pesat. Minat baca masih rendah. Daftar kunjungan ke Perpustakaan Daerah bisa dibilang sangat minim ( ini dari beberapa kali pengalaman saya mengunjungi perpustakaan daerah dan melihat daftar pengunjung)

 Banyak faktor penyebab kalau saya melihatnya. Pertama, ketersediaan sumber bacaan dan penyebarannya serta kampanye bacanya yang kurang variatif. Perpustakaan Daerah Fakfak punya koleksi buku yang variatif namun statis. Perpustakaan keliling pun tidak maksimal berjalan kalau hanya mengandalkan armada pemerintah yang hanya punya satu mobil operasional.

 Bahwa kemudian belakangan muncul berbagai komunitas relawan pegiat pendidikan dan social di Fakfak itu kemudian menjadi stimulus yang luar biasa. Di tambah lagi dengan Program Literasi yang mulai dijalankan ditiap sekolah.

 Kami masih percaya bahwa, minat baca rendah bukan karena tidak suka buku tapi lebih kepada penyebaran buku, ketersediaan buku. Sebagai info tambahan, sebenarnya di Fakfak belum ada Toko Buku. Toko Buku yang benar-benar Toko Buku, yang menyediakan suplemen berharga bagi pecinta dan pemburu buku.

 Dan salah satu upaya yang coba dilakukan komposTIFA diantaranya dengan menggelar buku di Pusat Keramaian yang kita namakan kampanye Tong babat dan juga Ransel Propos, kita bawa buku dalam ransel dan menuju kampung tertentu dan ajak baca.

 Semoga dengan yang komposTIFA lakukan bisa menjadi inspirasi dan penyemangat buat teman-teman lain dalam berkontribusi bagi negeri 🙂

 #Moderator :

 Baik kaka, nah sa lanjut yaa, dan sa lanjut dengan pertanyaan terakhir sebelum ada 3 pertanyaan dari peserta atau audiens Kelas Cerdas kali ini.

 Jika sudah kelola 5 rumah baca dan sudah berdiri sejak 2015 apa saja kendala yang dihadapi oleh Kompos Tifa yang berkenan di bagikan, dan apa sih harapan terbesar kaka untuk Kompos Tifa ?

 #Narasumber :

 KomposTIFA sendiri berdiri tanggal 11 Desember 2015 dan hingga kini nyaris berusia 2 tahun. Perjuangan awal saat memulai komposTIFA sudah merupakan kebahagiaan luar biasa bagi saya pribadi dan mungkin juga teman-teman propos yang lain.

 Dari bagaimana kami tiba-tiba mengalang dana dengan membuka “Café Liar” dan juga kampanye Satusatu dan SuSATU sekaligus kampanye Ayo Tong Babat ( Kitong Baca, kitong Hebat ) di Jalan Baru ( salah satu jalan Protokol di Fakfak) yang saat itu belum menjadi pusat jajanan seperti saat ini.

 Bahwa kemudian ada beberapa pihak yang mungkin menganggap kami gila dengan melakukan hal-hal yang tidak biasa, tapi kemudian saat melihat lagi ke belakang ternyata itu juga menginspirasi beberapa orang lain. Itu semua amat sangat berkesan dan menjadikan kami lebih bersemangat untuk melakukan karya positif lainnya.

 Suka duka yang kami temui saat-saat awal komposTIFA berdiri sejatinya adalah kesatuan proses yang menguatkan kami semua dan itu semua menjadikan kami merasa beruntung pernah melaluinya.

 Bicara tentang kendala, harus diakui ada dan tidak sedikit. Dan itu saya sebutnya sebagai tantangan, hingga kita melihatnya bukan sebagai masalah tapi sesuatu yang memacu kita, yang membuat kita merasa terus tertantang untuk menghadapi dan menyelesaikannya.

 Beberapa diantaranya yaitu terkait Pendanaan. Dana adalah satu hal yang niscaya dalam berorganisasi, apapun itu organisasinya. KomposTIFA semenjak didirikan mengedepankan semangat kemandirian dalam mendanai segala kegiatan kami. Itu bukan berarti kami tidak pernah mengajukan proposal. Bagi kami Proposal pendanaan juga penting namun itu masuk urutan kesekian. Selalu yang kami upayakan terlebih dahulu adalah menggalang dana secara mandiri dahulu dengan mengerakkan potensi yang ada dalam komposTIFA.

 Dan kemudian nilai yang kami dapat dari itu adalah kami berhasil menciptakan kesan sebagai komunitas yang mampu untuk terus bekerja dan berkarya secara mandiri dengan atau tanpa dukungan proposal dan tanpa terikat atau berafiliasi dengan kepentingan siapapun. Kepentingan kami cuma satu yaitu berbuat kebaikan yang bermanfaat untuk orang banyak. Itu bisa jadi salah satu hal yang membuat kami berbeda dengan komunitas lain.

 Lalu tantangan lainnya adalah terkait sumber daya manusia dalam artian pengelola rumah baca. Gambaran yang tadi diawal saya singgung, bahwa kebanyakan rumah baca yang kami inisiasi berada jauh dari kota dengan medan yang tak mudah dan waktu tempuh yang tidak sedikit. Darat laut menyatu. tinggal udara saja yang belum.

 Bahwa dengan kesibukan kami teman-teman Propos yang berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan, pendidikan dan usia membuat kami tidak bisa secara maksimal untuk melakukan kunjungan. Warga lokal kampung setempat yang menjadi mitra kami, tidak semua memiliki karakter dan kesadaran yang sama. Apalagi bicara tentang literasi.

 Bicara literasi,bicara minat baca, ini juga bicara tentang kebiasaan dan kesukaan. Dan iklim ini yang coba kami bangun, dan ini terus memacu kami untuk berinovasi mencari pendekatan yang efektif dan aplikatif.

 Dan tantangan yang tidak kalah hebatnya adalah teknologi. Di satu sisi ia memudahkan, disisi lain melenakan. Gadget, permainan online jauh lebih menarik dibanding buku saat ini.Tak bisa disangkali. Kita tidak bisa menyalahkan teknologi. Daripada terus-menerus menyalahkan lebih baik berpikir bagaimana untuk menciptakan iklim membaca dengan menebar buku sebanyak mungkin. Dan itu salah satunya bisa dimulai dari wilayah pelosok yang belum “terpapar” gadget.

 #Narasumber :

 Harapan, hehehe….Harapan terbesar saya dengan komposTIFA semoga bisa menjadi Yayasan dengan cakupan kegiatan  bermanfaaat  yang lebih luas, mampu mewujudkan lebih banyak Rumah Baca di Pelosok Fakfak yang secara otomatis memupuk dan menumbuhkembangkan minat baca dan komposTIFA bisa menjadi Rumah untuk berkarya, berkreasi untuk sama-sama memajukan negeri dengan megedepankan semangat kemandirian, semangat kemanusiaan, semangat kemanfaatan. Tidak Mudah, tapi selalu ada jalan. Doakan kami juga ya teman-teman.

 #Moderator :

Amin, sama – sama mendoakan supaya impiannya tercapai Kaka, supaya semakin banyak yang mendapatkan akses pada buku bacaan baik di Fakfak, dan terutama ekosistem literasi tumbuh.

 Nah sekarang kita tunggu 3 pertanyaan dari sobat audiens untuk Kaka Ida yaa. Silahkan teman – teman.

 #Moderator :

 Terimakasih sobat yang su bertanya langsung kepada moderator, ini ada pertanyaan dari Bekasi, dari Dani

 Wah bagus sekali ya di Fakfak, kalau kompos tifa ini fokusnya ke pembaca anak kecil, remaja atau dewasa ?

 #Narasumber :

 Hallo,Terima kasih kaka Dani dari Bekasi sudah mau berpartisipasi… semoga sehat ya 🙂

 Semangat awal kami saat mendirikan Rumah baca adalah agar bisa menjadi ruang baca untuk segala kalangan. Itulah mengapa buku yang kami galang tidak hanya terbatas hanya bacaan anak saja. Buku dari berbagai genre fiksi maupun non fiksi kami galang.

 Belakangan memang kami lebih cenderung untuk buku bacaan yang membidik ke anak-anak. Karena semenjak beberapa program terkait literasi yang kami luncurkan, peminatnya lebih ke anak-anak kakak 🙂

 #Moderator : Baik, jadi cenderungnya ke segmen pembaca anak – anak ya kaka.

Nah pertanyaan kedua dari Maria di Sorong

 Kaka baru bagaimana tanggapan pemerintah ? dan kalau sa baca su banyak dibantu orang atau komunitas diluar Fak-fak. Bagaimana caranya bisa seperti itu supaya dibantu mereka kaka  ?

 #Narasumber :

 Halo kaka Maria di Sorong, senang sekali bisa berkenalan melalui Kelas Cerdas

 Tanggapan Pemerintah sejauh ini cukup baik. Melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah kabupaten Fakfak, kami pernah mendapat sokongan buku untuk Rumah Baca Efata. Meskipun harus kami akui bahwa bentuk terkait pendanaan kegiatan belum terwujud. tapi kami percaya bahwa dengan keterlibatan Kantor Arsip dalam beberapa kegiatan yang kami lakukan itu sudah merupakan suntikan semangat bagi kami.

 Tentang jaringan dari luar, media sosial cukup berperan besar bagi kami. Dalam komposTIFA kami punya beberapa Divisi yang saling terkait untuk mengkampanyekan Program kami. Teman-teman dari Divisi Publikasi cukup berperan untuk itu.

 Dan satu lagi, yang penting adalah berkarya dulu. Apresiasi atau dukungan sejatinya satu paket dengan Prestasi. Jadi, bergerak aja dulu 🙂

 #Moderator : Lanjut dengan pertanyaan terakhir dari audiens ya kaka

 ada Indah dari Yogyakarta : Tidak punya rencana cerita-cerita dibukukan ya, kan bagus sekali cerita bisa berbagi ruang baca di tempat seperti Mushola  dan sekolah  ? apalagi cerita mau ke lokasi dan kehilangan sinyal malam – malam ?

 #Narasumber :

 Wah kak Indah di Jogja, Menarik sekali pertanyaannya….

 Sebenarnya di web kami ada kumpulan artikel tentang cerita kami saat bertualang membuka Rumah Baca. Meskipun belum terlalu banyak.

 Salah satu harapan kami memang kedepannya kami bisa membuat kumpulan cerita atau artikel kami yang di bukukan. Insya Allah,.. Sambil disimak saja kak, bakal ada cerita seru lainnya. Eksotisme pedalaman Papua yang kami temui dalam perjalanan kami.

 Mohon do’a dan dukungannya ya kakak 🙂

 #Moderator : Terimakasih banyak kaks dorang yang sudah berkenan memberi pertanyaan kepada Kaka Ida.

 Semoga sobat semua mendapatkan banyak manfaat dari Kelas Cerdas kali ini. Dan ada kesan dan pesan dari Talkshow sore ini kaka Ida ?

 #Narasumber :

 Sahabat hebat Kelas Cerdas dimanapun berada, tentang Kesan.

Hampir semua perjalanan bersama komposTIFA dalam rentang hampir 2 tahun berdiri ini semuanya berkesan. Semuanya menggetarkan. Kami yang dulu bukan apa-apa, yang sesama kami awalnya asing satu sama lain, yang awalnya tidak pernah terpikir untuk bisa melakukan perjalanan jauh dan project-project luar biasa tanpa dibayar tapi dengan semangat keikhlasan dan kemanfaatan kami bisa mewujudkan itu, sungguh telah menjadi sesuatu yang amat sangat luar biasa.

 Dalam satu kesempatan pernah saya sampaikan ke teman-teman Propos, Orientasi akan menentukan seberapa jauh kita melangkah, seberapa lama kita bertahan, dan seberapa teguh kita untuk tidak menyerah. Dan seiring waktu itu menguji kami hingga bisa sampai di titik ini. Perjalanan masih panjang dan kami masih terus membutuhkan dukungan dari berbagai pihak.

 “Bekerja Untuk Kemanusiaan”, kalimat itu saya dapat saat Inisiasi RBK ke 4 di kampung Kriawaswas awal Agustus kemarin. Keluar dari seorang Tokoh Muda kampung itu, yang memilih untuk pulang ke kampung halamannya dan membangun disana. Project-project kebaikan yang kami lakukan sepanjang nyaris 2 tahun ini, sesungguhnya mempertemukan kami  dengan begitu banyak orang-orang baik yang masih peduli untuk membangun atas dasar kemanusiaan yang merupakan nilai agung dari setiap agama dan aliran kepercayaan.

 Kami pernah membuat event budaya besar saat peringatan Sumpah Pemuda tahun kemarin dengan melibatkan masyarakat dari berbagai komponen dengan hanya “bermotorkan” 18 orang dan dana tipis, bakti sosial mengujungi beberapa kampung jauh dengan biaya yang megap-megap, atau penggalangan dana yang diluar ekspekstasi. Namun itu semua tidak menyurutkan kami.

 Dari semua ini, semangat yang ingin kami bagi kawan, bahwa jangan pernah berhenti berbuat baik, karena sejatinya kebaikan itu berjejaring dengan kebaikan lainnya, bahwa segala niat baik pasti akan selalu dimudahkan. Dan kami telah buktikan itu. Kebaikan yang tulus tidak pernah mengkhianati. Jadi sekali lagi, jangan pernah berhenti berbuat baik 🙂

 #Narasumber :

 terima kasih tak terhingga untuk kak Dayu dan Kelas Cerdas. Sudah memberikan kesempatan pada kami berbagi… Mohon dukungan ya untuk teman-teman semuanya… Salam Konspirasi Positif 🙂

 #Moderator : Sekali lagi terimakasih banyak buat Kaka Ida yang telah berkenan berbagi, dan juga sobat semua yang berkenan berpartisipasi dalam Kelas Cerdas kali ini.

 Jangan lupa bulan depan kami akan hadirkan satu orang narasumber untuk berbagi cerita inisiatif yang sedang dilakukan, selamat malam semuanya. Kali ini akan ditutup dengan quotes dari Kaka Ida.

IMG_20170830_175956

Selamat malam, terimakasih semua.

Sampai jumpa di Kelas Cerdas bulan depan, semoga menginspirasi.

 —————————————————————————————————————————————-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s