STOP JADI RELAWAN!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dianggap sebelah mata dalam kerja-kerja senyap politisi kerelawanan itu adalah hal yang biasa. Sudah kebal bahkan kebas dan mati rasa bagi Propos. Sekedar mengingatkan saja, kalau setelah membaca tulisan ini lalu terprovokasi untuk bergabung dan melakukan aksi-aksi “militansi” kerelawanan bersama Propos komposTIFA, maka pikir lagi ulang-ulang.

“Lho Militansi? Emang Relawan bisa militant, neror, tebar bom ? Wuih, ngerih!”.

Eits tunggu dulu kawan. Militansi Para politisi kerelawanan itu berbeda, apalagi Para Politisi kerelawanan Propos.

“Gila, mentang-mentang musim Pemilu jadi kata-katanya musti ada Politisi, Militan, kerja”.

Kalau bicara semangat sama Propos komposTIFA, jangan ditanya. Ini bukan perkara jualan jamu atau obat yang para penjajanya pasti akan menempuh segala cara untuk mengkampanyekan jualannya. Orang-orang yang tergabung di Propos apalagi para dedengkotnya jika ditanya apa yang mereka dapat setelah nyaris tiga tahun menjadi Politisi Buku senyap, Politisi Kerelawanan, bisa jadi jawaban yang sama diperoleh adalah “kegilaan yang nyaris permanen binti akut”. Sudah berkali-kali membuat event dengan dana megap-megap, ditikung oleh tetangga seberang jalan ( nah loh! ), belum lagi diterpa badai internal yang bertubi-tubi dan lalu harus bercerai tapi toh tidak kapok juga. Dijanjikan surga sama Para PHPiers ( PHP itu Pace-pace Pemberi Harapan dan Pastiu), malah bahagia tak ketolongan. Tapi jangan sekali-sekali pertanyaan itu muncul dari ponakan, dari mama, dari bini, dari anak paling bungsu, apalagi dari kucing kesayangan ( nah lho, kucing juga ngomong !)

Contoh Kasus 1.

Pas lagi santai-santainya liburan, tiba-tiba didatangi ponakan, “ Mama XXX libur?”.

“ Lalu menurut NGANA?”

“Hari Minggu juga?”

“ Lalu?”

U nya panjang, percaya diri. Dan…

“ tapi kenapa sa tra perna liat di rumah”.

Krik krik krik…. Jedanya yang panjang sekarang. Itu benar-benar NJLEB, Sukses buat rasa bersalah. Luka tapi berdarah malu-malu.

Contoh Kasus 2.

“ Su kasi makan kucing?”

“ Lalu menurut ngana?” ( Oops, ini yang Tanya Mama)

“ Anak kurang ajar. Pi kasi makan kucing sana. Itu Yakop ( Burung Kaka Tua)  su teriak-teriak”

“ Masih Meeting mama deng Propos KomposTIFA. Ada pertemuan juga dengan Abang Uut buat tong pu PBI III”

“ Oh. Iyo sudah. Salam buat Abang Uut. Kam berapa orang di situ? Abis meeting datang ambil nasi kuning e, Mama su pesan!”

“Siap Mama. Baru kucing sama yakop?”

“ Lalu Menurut NGANA?” ( ini betul-betul Mama yang balas)

 

Contoh Kasus 3

“ Abang pulang Jam berapa?”

“ Mungkin larut De’. Ini masih meeting bahas PBI III deng Abang Uut. Abang tra usah di tunggu”

“ Oke abang. Ingatan, pulang telat trapa asal sayur yang ade su masak dimakan e. Kalo tidak, stop gabung komposTIFA” ( Nah loh, ini Abang Proposnya tra suka makan sayur)

Contoh Kasus 4

Jam 23.00 wit. Suara Ojek berhenti depan rumah. Suara pintu berdecit ( Bukan Decit si Propos KomposTIFA). Langkah senyap, mengendap masuk pelan-pelan dalam rumah. Suara anak kecil mirip suara anak di Film Annabelle. ( Ngeri tidak itu? ). Tiba-tiba peluk kaki. ( tra bikin syok itu tengah malam?). Eh tahu-tahunya anak sendiri. Bungsu 2 Tahun.

“ Ade belum tidur?”

Makin manja. Minta gendong terus dan enggan lepas dari pelukan. Bapaknya Propos KomposTIFA , sering pulang malam belakangan, baru pulang persiapan PBI III meeting sama Abang Uut. ( sio, Abang Uut ini de Bintang. Yang lain lewat)

Contoh Kasus 5

“ Kaka Dede beli Kebab banyak sampe”

“ Itu sudah. Ini untuk si Koneng dan kawan-kawan. Kasian berapa hari ini su tra pernah liat dia”

“ memang trada yang temani dorang di rumah?”

“ Ada, teman kantor serumah. Cuma sekali-sekali tho, sa su abaikan dong satu minggu ini jadi. Ini aja, nanti titip juga di teman kantor. Abang Uut baru hubungi mo persiapan PBI III ini” ( tuh kan, Abang Uut muncul lagi J)

Dalam hati, Kaka Dede bilang ‘Sabar ya Koneng. Nanti bisa main bareng lagi’ ( Koneng itu nama Kucing Kesayangan )

*

Kawan, kesimpulan inti  dari beberapa kasus di atas  adalah “Peringatan Keras”. STOP JADI RELAWAN! Jangan pernah sekali-sekali teracuni bahkan terpikir untuk menjadi relawan apalagi Relawan Propos komposTIFA. Jika masih nekad juga, pesan terakhir yang bisa  saya ( korban) anjurkan paling tidak kau harus punya 5 modal pokok.  Pertama, hati yang luas dan kebal untuk mampu menangkal pertanyaan-pertanyaan absurd yang tiba-tiba dari orang-orang terdekat kita. Kedua, punya orang tua, keluarga, anak yang juga rela memiliki anggota keluarga yang juga absurd. Ketiga, punya pasangan hidup yang sabar luar biasa, ketika pasangannya tidak suka makan sayur (oops ! Fokus Fokus Fokus ). Maksudnya punya pasangan yang sabar dan memaklumi saat pasangannya sedang sibuk dengan absurditas. Keempat, punya hewan kesayangan yang harus bernama “Koneng” ( tuh kan, gagal focus lagi- Ini yang tulis Korban absurditas selama nyaris 3 tahun jadi). Maksudnya punya hewan kesayangan yang juga  sedikit absurd ketika dicekoki makanan absurd sebagai permohonan maaf ( gimana tidak absurd kalau kucing kesayangan “Cemilan”-nya kebab. C-nya huruf besar lho dan kebab bukan makanan pokok). Dan terakhir kemampuan untuk menahan tawa sepanjang membaca tulisan absurd ini. Untuk modal terakhir ini, jika kau tak mampu manahannya maka hati-hati. Virus absurditas akan segera mewabahi mu dan itu berbahaya.

*

Poin ini serius ya. Sedikit mengulang kembali kutipan  Om George Bernard  Shaw. Saat semua orang waras mencoba beradaptasi dengan lingkungan, orang yang tidak waras datang dengan percaya diri dengan  segala absurditas yang dipunyai dalam batok kepalanya dan berkeras kepala melawan arus, mengadaptasi lingkungan dengan dirinya. Membalikkan persepsi orang kebanyakan dan mendapat tantangan yang tak berbilang. Sebut saja Nabi Muhammad yang di sebut Gila oleh kaumnya saat kali pertama membawa risalah kenabian, Galileo Galilei yang dihukum mati Otoritas Gereja karena teori heliosentris berseberangan dengan geosentris yang dikukuhkan gereja, Einstein dengan teori relativitas, Ghandi yang humanis melawan penjajah tanpa senjata dan peledak padahal saat itu jika dia mau dia bisa menggalang dukungan dari negara adikuasa si Polisi Internasional, Penegak HAM ( Konon).  Sejarah telah membuktikan dan melegendakan Tokoh-tokoh perubahan itu. Dan benarlah kata Om George, Perubahan besar yang terjadi di dunia ini, hanya berada di tangan orang-orang yang tidak berakal sehat.

Dan Kawan, jika kau sudah mulai bisa mendeteksi gejala seperti ini didirimu, hati-hati! Di situlah tidak jarang sejarah dan legenda akan tercipta. Masih Mo ko jadi relawan? (Logatnya sambil kebayang Kaka Adyn yang berdarah Makassar)

Terakhir kawan, ini benar-benar penghabisan. Berat kawan ! Jadi, STOP JADI RELAWAN jika belum siap menjadi Makhluk Absurd.

Salam Absurditas, Salam Konspirasi Positif J

Kamis, 20 September 2018 FFK

 

 

Sumber Gambar:

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s