Toleransi Sejatinya Menyamakan Frekuensi

Menempuh perjalanan menuju kesederhanaan bersama komposTIFA, selalu dan akan selalu ada petualangan – petualangan makna baru. Aku tak akan membicarakan hal – hal serius yang akan membuat sahabat hebat mengerutkan kening saat membacanya apalagi harus memburu kamus – kamus multi tafsir dari penerjemahan dalam seantero negeri. Hanya beberapa kisah sederhana yang sedikit banyak menyentuh sisi sensitifku dan berharap bias membuka pemahaman banyak orang  agar memiliki kepekaan dan empati saat berinteraksi dengan masyarakat tempatku lahir dan dibesarkan.

Kawan, bagiku sebagai seorang muslim,  dalam setiap perjalananku, telah menjadi keharusan untukku menyempatkan diri meletakkan kening di tempat terendah dimanapun kaki melangkah. Kawan, ini bagiku sebagai wujud kesyukuran akan keleluasaan dan kemerdekaan yang akudapatkan. Dalam beberapa project petualangan makna bersama komposTIFA ataupun organisasi lain bahkan berseorangan pun, hal itu selalu nyaris aku lakukan jika tidak sedang berhalangan. Ini juga untuk mengingatkan ku agar selalu rendah hati, menjunjung tinggi dan menghargai nilai-nilai yang dipegang orang di tiap daerah baru yang kupijak. Tulisan ini tidak dimaksud kan untuk sok menasehati ataupun sebentuk ceramah agama. Tidak kawan, tidak. Sebagai mana judul tulisan ini, Toleransi sejatinya Menyamakan Frekuensi adalah sekedar ingin membag isudut pandang dari aku yang seorang muslim merasa bagaimana penerimaan akan perbedaan dalam masyrakat dan lingkungan khususnya di Fakfak yang terkenal dengan filosofi religious varian “ satutungkutigabatu “.

Kawan, Melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim dalam suatu lingkungan yang mayoritas atau bahkan seratus persen memegang keyakinan yang sama dengan kita adalah tentu hal yang lumrah. Kita merasa bebas dan berada dengan lingkungan yang satu identitas, satu nilai. Lalu tentu akan menjadi lebih dari sekedar luar biasa saat kita melakukan itu di suatu tempat yang bahkan tak seorang pun “sama” dalam hal keyakinan dengan kita. Arguni adalah daerah yang mayoritas seluruh penduduknya sama denganku dalam hal keyakinan. Nuansa keagamaan (Islami ) demikian kental terasa disana. Siboru jelas suatu daera hlain yang ada di Fakfak yang seratus persen penduduknya berbeda keyakinan denganku. Aku belajar nilai toleransi sesungguhnya dari perjalanan – perjalanan sederhana ini. Saat melihat siaran di televisi, postingan-postingan di media sosial, saat para pakar bicara tentang teori-teori toleransi dari sudut pandang dan pendapat tokoh blah blah blah, kami yang melakukan perjalanan kesederhanaan ini, dan bertemu dengan orang – orang  sederhana ini langsung memahaminya dengan melihat masyarakat setempat mempraktekkannya dalam kehidupan nyata dan keseharian mereka. Nilai ini sungguh bukan kita dapatkan dari melanglang buana dari teori buku ini atau buku itu. Atau dari perjalanansatu seminar ke seminar lain. Orang- orang sederhana inimempraktekkan denganhatidanketulusan. Mempraktekkan dengan kesadaran yang sama tanpa memandang latar belakang tiap-tiap   kami,saya muslim mereka nasrani atau bahkan sebaliknya. Tapi berangkat dari nilai kebenaran mutlak bahwa kebaikan itu memiliki nilai yang general di semua keyakinan.

Bagaimana tidak tersentuh nyaaku , saat hendak melakukans holat di daerah nasrani lalu si empunya rumah dating dan mengambilkan air untuk ku berwudhu. Bagaimana tidak tersentuhnya aku, saat selasai berwudhu lalu sang em punyarumah menunjukkan pada ku ruangan terbaik yang ia punya di rumahnya yang sederhana, dengan sehelai tikar anyaman pandan yang tua sambil memberikan padaku sehelai handuk kecil milik anaknya yang bersih dan berkata polos, “pakai saja ini, milik Coki ( nama putranya )”  yang  dalam kesederhaan pikirannya atau keawaman akan keyakinan ku,bias saja wudhu adalah sejenis mandi kecil yang harus di keringkan. Ini indah kawan, indah dan menyentuh.

Lalu beberapa kisah konyol kami saat bingung mencari arah kiblat untuk sholat di daerah yang notabene adalah nasrani. Tiba di tempat tersebut saat nyaris tengah malam , tanpa mengetahui dimana arah matahari terbit dan tenggelam. Saat menjelang subuh,  hanya sekedar bertayamum lalu meniatkan sambil mencari-cari petunjuk arah kiblat. Sejatinya petunjuk akan selalu ada di sana. Dari jendela bekas ruang belajar tampak bulan condong hendak terbenam. Yup, di sanalah pasti arah barat, arah matahari terbenam. Dalam gelap mencekam dan dingin yang menikam tak ketolongan,  ditambah kelaparan hebat serta lelah diluar batas akibat perjalanan jauh, luruskan niatkan, sempurnakan takbir dan eksekusi Sholat Subuh. Kewajiban tertunai lalu menunggu matahari terbit. Dan Derrr , Matahari pun terbit dari arah bulan mencondongkan diri. Tidak jarang bahkan beberapa kali, saat beberapa dari kami hendak melakukan sholat di rumah warga yang nasrani tanpa tahu di mana arah kiblat, hanya melakukan saja dengan niat ibadah, lalu perkara syariat, seperti keabsahan menyangkut kesucian tempat, kemiringan dan keakuratan arah kiblat biarlah menjadi hitung-hitungan Tuhan saja.

Telah menjadi Rahasia umum dikebanyakan Pribumi Fakfak bahwa dalam satu rumah, satu marga,  ada tiga keyakinan dan itu tetap membuat mereka solid dalam berinteraksi. Perkara Ibadah bagi mereka adalah urusan orang pribadi, orang-perorang dengan Sang Pencipta. Namun perkara interaksi social sesame manusia, mereka sesungguhnya tetap keluarga, tetap sedarah. Prinsip hidup inilah, yang kemudian menjadi cikalbakal lahirnya Filosofi ‘Satu Tungku Tiga Batu. 3 keyakinan ( Islam, Kristen, Katholik ) untuk satu tujuan membangun Fakfak.

Nilai toleransi ini lahir karena bahasa umum yang telah tertanam dalam tiap-tiap kita sejak zaman purbakala, saat kita belum nberidentitas. Menyadur sedikit kata Soe Hok Gie, “kita begitu berbeda dalam banyak hal, kecuali satu yaitu Cinta “. Yah, Muslim, Nasrani, Hindu, Budhha ataupun Khonghucu sesungguhnya punya nilai general ini dan sama. Cinta, kasih sayang. Kepedulian, berempati dan bersimpati seperti nyadari cintalah biangnya.  Bahkan dalam keyakinan yang ku anut pun, Tuhan menamakan dirinya sendiri dengan Ar – Rahman, Ar – Rahiim yang artinya Yang Maha Penyayang, Maha Pengasih. Bukan kah Nyaris dari kita semua meyakini bahwa kita diciptakan oleh Pemilik Semesta? Dan Citra diri kita sesungguhnya sedikit banyak cerminan dari Citra Sang Pemilik semesta? Bahwa kemudian belakangan mulai marak beberapa orang yang mendakwakan diri seakan sebagai wakil Tuhan yang memiliki hak mutlak untuk menghakimi nyaris menyamai Tuhan, tentang benar salah dan hidup mati lantaran pernyataan yang bias jadi salah ucap atau keawaman, aku hanya mengelus dada. Tidaka kan pernah ketemu saat kita berbicara toleransi dengan frekuensi berbeda. Yang satu dengan nada kebencian dan prasangka, sedang yang satu dengan keawaman akibat terbatasnya pengetahuan dan pemahaman.

Hey, kalau mau belajar toleransi, mari keFakfak. Biar orang-orang sederhana ini mengajarkan pada kalian apa itu toleransi. Toleransi seharusnya cara kita berkomunikasi dengan frekuensi yang sama yaitu cinta. Bukan bahasa Fanatisme berlebihan. Menjadi Fanatik dalam beragama bagiku baik, namun saat kita mulai memaksakan Fanatisme berlebihan kepada orang lain agar sama fanatiknya dengan kita, jelas bias jadi kita sudah tidak lagi berada dalam kebhinekaan yang menjadi Simbolisme KzAe-Indonesiaankita.

Sahabat hebat, kemajemukan sesungguhnya adalah kekuatan yang membuat kita mampu berdiri hingga saat ini. Fakfak tempatku lahir dan dibesarkan mengajarkan nilai ini padaku, pada kami. Perbedaan semestinya menjadi berkah dan anugerah untuk bias saling memahami. Dan masih dalam momentum Ulang Tahun Fakfak, Kota Tertua di Pulau Papua yang ke 116 tahun, 16 November 2016, dan Juga Hari Toleransi Nasional, mari samakan “Frekuensi” toleransi kita untuk tetap menjaga Kebhinekaan, untuk mengembangkan potensi diri, berkontribusi bagi negeri demi kemajuan bersama. Tetap semangat Sahabat hebat. Selalu, Semangat Konspirasi Positif.

November, 26, 2016

SHW 🙂

Iklan

“SEPENGGAL KISAH ARGUNI”

Sebelumnya beta kas tau beta pu nama dolo ee,, beta pu nama citto…

Hari itu yang beta ingat hari sabtu,, tanggal su lupa maklum penderita pelupa akut biasa saya namakan itu,,heheheh  Oke beta lanjut,,,, kira2 jam 9 pagi dapat info dari kitong pu ketua katanya kitong su bisa pi arguni sore itu juga  untuk visite evaluasi yang perdana. Respon yang pertama kali keluar dari mulut beta “what???? Kenapa tra sekalian sejam sebelum keberangkatan??? Jujur itu perencanaan yang sangat2 mendadak kalo beta pikir….. Tapi yah,, mo bagaimana lagi namanya juga tanggung jawab,,,karena merasa itu tanggung jawab,, beta lalu mengajukan diri untuk pergi kesana..pikir2 juga su lama beta tra kesana ,,rindu deng de pu suasana kampung. Setelah memutuskan menjdi salahsatu relawan yang akan ke siboru,,beta langsung cepat2 kas selesai pekerjaan kantor 14.00 wit tedenggggg waktunya pulang kantor,,,saatnya baberes tuk pi  argunni

Pulang lah itu ceritanya,, baru saja keluar dari tempat kerja eh tra disangka sangka beta pu ban motor picah,,,bingunglah sayanya. Berhenti sejenak tuk befikir dolo,, kira2 bagaimana selanjutnya??? Karena masalahnya kuraang lebih 2 jam lagi kitong su mo pi ke arguni ….Bukan citto namanya kalo tra mencoba,,,akhirnya beta mencoba beranikan diri untuk meluncur mencari bengkel terdekat,,Alhamdulillah dapat bengkel tra pake lama minta tolonglah saya tuk ban motor ditambal,, lagi sementara menunggu beta pu mama telepon.

Mace  : “ Assalamualaikum kaka,,dimana???kenapa belom pulang

Beta    :“ wa”alaikumsalam ban motor picah mam,, jadi ada singgah di bengkel dekat rumah sakit dolo..

Seketika percakapan ditelepon terputus hmmmm Beberapa menit kemudian ternyata sang mama tercinta tiba di bengkel yaaah begitulah cinta seorang ibu kepada anakanya. Kurang lebih 10 menit kemudian beta motor su selesai. Pulanglah ceritanya ini ternyata eh ternyata belom sampe ke rumah ban motor pecah lg cek per cek montir di bengkel itu salah tambal ban, entahlah bagaiman cara kerjanya disitu kadang beta rasa heran Terpaksa dengan berat hati berkolaborasi dengan sedih hati,  akhirnya sa pergi mencari bengkel lagi dengan pikiran su kemana mana (sebenarnya sih takut di kas tinggal ke arguni hahahaha)

Supaya cepat,,sa ambil keputusan untuk mengganti ban baru tra sampe 5 menit su jadi,, bergegaslah beta pulang,,,, sampainya dirumah tanpa basa basi beta kas siap2 peralatan yg bakal beta bawa pi ke arguni,, tra smpe 10 menit z su siap tra pake mandi lagi,,wkwkwkw  Ya begitulah kehidupan simple beta.

Tik…tok..tik..tok.. jam berdetak,, tra sadar kitong terlambat sejam dari kesepakatan keberangktan. Bismillahirahmanirahim akhirnya menuju Arguni. Gengs, sekedar info kalau mau ke Arguni mesti ke Kokas dulu nah nanti sampai Kokas baru naik jonson (long boat) ke Arguni kurang lebih setengah jam. Oke beta lanjut eee… sampai di Kokas itu su maghrib jadi kitong singgah tuk sholat dolo. Selesai sholat sa dengan teman – teman singgah beli cemilan. Begini kitong duduk2 tunggu jemputan karena ragu akhirnya kitong coba telpon Bapa Oni tuk memastikan. Oh iya gengs Bapa Oni ini adalah orang tua angkat kitong di kampung Arguni su tidak ada kata2 yang bisa tertuliskan klo mo cerita soal kebaikan beliau sekeluarga. Tadinya su mo putus asa tapi selain putus asa di benci Allah SWT kitong pu semboyan “segala niat baik pasti ada jalan” yang buat kitong semangat lagi.

Akhirnya begini Bapa Oni jawab telepon, beliau sempat kaget tra percaya kitong su di Kokas sampe bertanya dua kali hahahaha.

Gengs kamong tau, kitong pu perjalanan ke Arguni su malam eee padahal su niat nikmati sunset tengah laut lagi bruuu, yang ada kitong nikmati gelapnya dunia ditengah laut tra bisa liat apa2 hahahahaha. Setengah jam perjalanan sampailah kita di Arguni sampai di rumah kitong langsung makan melepas kangen dengan keluarga disana dan tidoooorrrrrr.

Keesokan paginya sebelum kitong lakukan tujuan yang sudah kitong rencanakan, karena masih pagi kitong berempat pi menikmati suasana pagi yang menenangkan dolo, kan su pi jauh2 begini tra afdol kalo tra foto2 biar dikata kekinian hehehehe. Su asyik2 foto2 bgni, tra rasa su mo jam 10 pagi saatnya pulang siap2 tuk pi di kitong pu rumah baca ketemu dengan adek2 TK maupun SD.

Kegiatan kitong saat itu seruu sekali karena baik guru maupun anak2 muridnya sangat kooperatif. Banyak kegiatan yang kitong bikin saat itu dari mendongeng, mengenal nusantara melalui peta, dan belajar bahasa inggris belum lagi kitong bikin permainan susun kata deng pipa bocor siapa yang menang dapat hadiah tentunya.  Kegiatan itu kitong bikin pas matahari panas apa laeee… tapi itu tra jadi penghalang kitong tetap semangat.

Akhirnya tra rasa kegiatan yang kitong bikin dari siang selesa di sore hari,, karena su sore juga tra pake lama lagi kitong pamitlah tuk kembali ke Kokas dan menuju pulang ke rumah masing2. Selama perjalan dari Arguni sampai ke Kokas kitong pu mata di manjakan dengan pemandangan pu bagus apa laeeee Gugusan pulau2 berderet sampai yang tersirat diikiran, Masyaa Allah ciptaan sang Pencipta.

Mungkin sampai sini dulu sapu cerita eeee,, nanti kapan2 baru sa cerita pengalaman2 seru yang lain..

Assalamu’alaikum…

November, 03, 2016

Citto_Bede

dsc_0007

4 Srikandi komposTIFA yg “Nekad” Nyebrang laut malam2

CAMERA

Foto Bersama Adik2 dan Pengurus RBK Arguni-Taver Setelah Kegiatan

 

Sahabat Memotifasi & Inspiratif

Apa sih arti sahabat buat kalian ?

Seberapa pentingkah mereka dalam kehidupan kalian ?

Apa ada fungsi khusus buat kamu dari mereka ?

Kalo saya sendiri akan bilang iya, sangat penting dan sangat perlu, tapi dengan catatan sahabat yang bukan sekedar menjadi tempat curhat untuk bercerita, akan tetapi harus yang bisa membakar motivasi dan inspiratif.

Sebagian dari kita mungkin merasa sahabat cukup menjadi teman curhat saja, atau mnjadi teman setia dikala susah dan senang. Memang iya, fungsi sahabat harus seperti itu. akan tetapi saya secra pribadi mau sahabat yang harus bisa membakar motivasi dan memberi inspirasi dengan pencapaian-pencapaian atau kesuksesan-kesuksesan yang telah dia raih.

Dari merekalah akhirnya kita terpacu untuk berkompetisi dalam hal positif, berkompetensi untuk meraih yang terbaikdari yang paling baik. sejujurnya, itulah yang saya rasakan bersama sahabat-sahabat saya.merekalah salah satu alasan kuat kenapa saya harus berambisi keras melebihi pencapaian mereka.merekalah yang melecut semangat saya.

DSC_0390.JPGMerekalah yang menantang saya untuk bermimpi besar dan meraih segala impian tersebut. Merekalah juga yang memberikan saya berbagai kisah-kisah inspiratif sehingga memaksa saya untuk terus bergerak ke tujuan. Saya sangat suka persahabatan bahkan mereka adalah keluarga istimewa. Persahabatan selayaknya keluarga yang benar-benar saling membangun. Kita bersama-sama ingin menjadi seorang yang lebih baik dan berhasil.

Saya bangga dan mensyukuri TUHAN kerna telah mempertemukan saya dengan sahabat-sahabat tangguh luar biasa  seperti mereka. Ketika kita merasakan bahwa hari ini adalah yang paling terbaik, tidak ada alasan lagi untuk bersikap sedih dan malas. Ceriakan setiap hari – harimu sahabat, berbuat sesuatu yang menyenangkan. Kerjakan hal-hal positif yang akan membantu mengembangkan potensi diri dan semangat sahabat-sahabat semunya. Untuk saya pribadi dan sahabat-sahabat berfikirlah dan bersikap positiflah dalam segala hal untuk hari ini dan esok harinya. Terima kasih buat kalian Propos kompostifa karena kalian sahabat-sahabat yang menjadi keluarga inspiratif dan memotifasi saya.

komposTIFA  Be the best!

Semangat, semangat, semangat!

Oktober, 13, 2016

Tika

komposTIFA

Mantra yang Menguatkan

Petualangan makna yang kami jalani nyaris setahun ini, hakikatnya membuat kami menyusuri jalan-jalan hikmah yang menuntun kami pada “mantra-mantra ajaib” yang menguatkan.Tidak hanya menguatkan,mantra-mantra itu justru membuat kami tergila-gila bahkan kecanduan pada “Gaya Baru Sakau”, Sakau akan Kebajikan. Sakau akan berbuat hal-hal yang bermanfaat.

Apakah ini kegilaan ? Ya, Ia adalah Kegilaan yang Mulia. Dan jika sakau-sakau kebanyakan memiliki efek samping negative,maka sakau gaya baru kami adalah berefek samping persahabatan, kekeluargaan ,silaturahmi.Ini belum seberapa jika ditambah dengan Apresiasi-apresiasi kecil yang kami dapatkan di tempat-tempat dimana jejak langkah maslahat kami tertinggal.

Sahabat mungkin akan bertanya, mantra apakah  itu yang menguatkan? Sedemikian dahsyatnyakah mantra itu sampai-sampai membuat kami demikian tergila-gila oleh energi gaib kasat mataitu ? Perlu waktu selama itukah hingga “mantra” itu menyusup ke dalam hati ?

Sesungguhnya, ini adalah mantra sederhana yang kami temukan dari eksperimen-eksperimen maslahat kami, dari keyakinan kami bahwa sesungguhnya “Segala Niat Baik pasti akan selalu dimudahkan“. Dari sinilah Energi  Gaib itu bermula dan menjadi mantra yang terus kami ulang-ulang hingga menjejaringkan segala bentuk perbedaan latar belakang kami menjadi karya kebajikan kolektif.

dsc_0868

kompostifa-crew

We are “Propos” KomposTIFA

Kawan, saat melihat ke belakang, komposTIFA sesungguhnya lahir dari semangat untuk sadar lalu berupaya membangun kepedulian dan mencari jalan untuk berbuat. Mimpi yang kami tulis dalam lembaran visualisasi masa depan saat itu, pelan dan perlahan mewujud. Mimpi untuk mewujudkanhanya  satu Rumah Baca di Kampung Arguni- Taver dengan mencoba untuk untuk meggalang dukungan dari berbagai pihak mendapat sambutan luar biasa disamping Gerakan kampanye Susatu dan Satusatu yang merupakan upaya swadaya mandiri kami. Dan alhasil, mimpi itu seakan membelah dan berwujud  menjadi Rumah baca ke dua di Desa Siboru. Project Bakti Sosial Kemah Bakti dan kampanye Sehat mendapat sokongan bukan hanya  moril tapi juga materiil dari pihak-pihak yang bahkan sebelumnya asing bagi kami. Berbuat kebajikanpun kemudian berkembang biak, beranak pinak dan berinovasi  dan semua itu seakan terjadi secara alamiah dan demikian mudahnya. Seakan membuktikan bahwa  Tuhan tak pernah ingkar Janji ( Dan Memang Ia selalu begitu). Ia akan selalu bersama orang-orang baik (apakah ini berarti kami para propos orang baik ? tet toot!!! ).

Rumah Baca KomposTIFA Arguni – Taver, Rumah Baca  KomposTIFA Siboru, Kemah Bakti KomposTIFA #1

Kegelisahan yang berkelindan kebingungan saat dana terjepit untuk peluncuran antrian project – project maslahat seakan tak pernah membuat kami kapok. Pertanyaan standar nyelekitseperti “hey punya uang berapa banyak untuk project ini ?” terdengar sama menariknya dengan pertanyaan “mau tidak berkencan dengan Nicholas Saputra?”. Tertantang, senang dan minder “ngerujak” jadi satu. Lalu ifrit di belakang kepala menyeringai dengan nakal,” tenang kawan kita punya mantra kan , bahwa niat baik akan selalu di mudahkan” (nih ifrit sudah insaf , karena sudah gabung sama Propos ). Dan semangat itu menyeruak lagi dengan membuat terobosan ide-ide jika boleh di bilang begitu ( meskipun Cuma level Fakfak ) dengan membuat event-event penggalangan dana tak biasa.

Ngafe liar yang sebenarnya pada bikin minder juga ( Ayo, propos yang sering ngafe…. Ngaku ?) atau pada takut juga dikejar-kejar Satpol PP saat operasi penertiban tempat umum  meski Fakfak tidak sesangar itu (sorry Om Satpol). Tapi mantra itu tetap menguatkan bahkan terus memantapkan langkah kami.

Ngafe “Liar” plus kampanye Susatu & SatuSatu

Event Nonton bareng Film Indie dan Sokola Rimba yang membuat kami harus pontang panting jualan kupon undian meski kemudian setelah  dihitung-hitung kami malah Minus  (hmmm, tra bikin ganas tuh!) “tara lah,kitong kan Propos, yang penting nilai maslahat dan pesan  tersampaikan” (nie kata ifrit lagi yang sudah  gabung jadi propos tadi) . Kepala kami terangkat lagi.

Nobar Film Sokola Rimba

Kami telah sakau, kami benar- benar kecanduan akan kebajikan. Meski ada saja sebagian orang akan mengatakan, tidak akan mungkin selamanya kita hanya menjadi lilin yang bakal habis terbakar untuk menjadi terang bagi sekeliling. Walau kami hilang musnah, tak mengapa kawan. Kami belajar tentang keikhlasan, kami belajar berbagi  dan paling utama kami belajar untuk memberi nilai manfaat dari karya kami,dan pilihan-pilihan kami saat inilah yang nantinya akan membentuk kami di masa datang.

Banyak kawan , sungguh banyak yang kami dapatkan dalam “kesakauan” ini. Berbuat baik menjadikan kami  mampu melangkah lebih jauh dari yang tak pernah terpikir sebelumnya. Bertemu orang baru , berinteraksi dengan dunia baru, menjejak tempat-tempat baru ( tidak jarang korban baru untuk di php, tra percaya boleh Tanya mimin kompostifa?! ) dan yang pasti keluarga baru. Kami menjadi anak ke 7 hingga ke 30 sekian untuk sebuah keluarga baru di Arguni setelah kakak ke enam kami, Tiwi ( apa kabar kaka Ibu di UK ? ).

Berani menempuh jalan berkilo-kilo meter dalam hujan badai  dikegelapan, dan terdampar di”keramahan” sebuah keluarga sederhana,jauh di pinggiran kota yang signal di daerah tersebut terdegradasi pada level “nyaris muncul”dan “kebanyakan hilang”. Menempuh lautan dalam gelap di bawah bintang yang sembunyi-sembunyi sedang dingin memaksa menembus bahkan hingga ke pori paling renik  sekalipun. Semua tak mengapa. Belum lagi tantangan internal kami, saat komitmen mulai mengabur, kejenuhan mulai mengintai, semua jiwa rentan sensitif  bahkan oleh candaan basi sekalipun.

21 Agustus 2016, Minggu, Kampung Ubadari, LPJ enam bulan pertama kami. Tahun- tahun pertama biasanya akan menjadi tahun-tahun terberat dalam sebuah organisasi bahkan hubungan apapun itu( itu menurut petuah bapak saya dan daku meyakini kebenarannya). Semangat yang meluap yang terus dikawal rapat kejenuhan, semangat menggebu yang terus diintai “kebosanan” yang siap menyusup dan menghancurkan,sesungguhnya menjadi penguji kesungguhan dan komitmen kami. LPJ bukan hanya sekedar laporan pertanggung jawaban formal tiap divisi, LPJ menjadi “Ladang Penguji Jiwa”, penguji ketatangguhan jiwa dalam berkomitmen. Dan “Lebih pada Penguatan Janji”, penguatan janji untuk tetap mampu menjaga kelurusan niat dan kejernihan hati. Aku selaku pribadi pun belajar bagaimana untuk berlapang dada , memiliki hati seluas alam raya dan jangkauan untuk merangkul seluruh hati dan karakter. Setelah kurang lebih 6 bulan bernaung dalam rumah bernama komposTIFA,secara internal aku belajar untuk memahami dan menerima bahwa perbedaan adalah sebuah keniscayaan,bahwa menjadi berbeda sesungguhnya bukanlah musibah, menjadi berbeda sesungguhnya membuka pintu hikmah, bahwa tiap orang mempunyai cara-cara istimewa dalam berinteraksi.

14115666_1022128207901249_672561630532488163_oCAMERA

LPJ Semester 1 KomposTIFA. Setelah serius2an lanjut main2 air kiteee

LPJ adalah “Lembaga Pendewasaan Jiwa “.Kita belajar untuk menerima masukan, kritik atupun saran tidak hanya pujian sesungguhnya. Mengelola emosi untuk menerima masukan tak hanya pujian hakekatnya adalah salah satu cara untuk mengikis kesombongan dan bisa jadi cara untuk melembutkan hati. Berani mengakui kesalahan sesungguhnya adalah membentangkan jalan kemudahan dalam berkarya yang dengannya kita mengakrabkan diri dengan ide-ide cemerlang . Dan lalu aku mulai percaya, komposTIFA bukan hanya tentang anak-anak muda yang  dipertemukan dalam satu idealisme dan semangat yang sama. KomposTIFAsesungguhnya telah menjadi semangat itu sendiri. komposTIFA adalah semangat untuk berkarya, komposTIFA adalah semangat  untuk peduli dan berbuat karya-karya maslahat. Aku percaya,pertemuan kami orang-orang yang didalamnya adalah sesuatu yang telah ditetapkan dari jauh masa sebelum alam ini bernama. Aku adalah orang yang  tak mempercayai kebetulan. Bahwa bagiku, bukan kebetulan kami bertemu, bukan kebetulan kami bersama-sama dalam komposTIFA. Bahwa kami sesungguhnya telah ditakdirkan untuk bertemu  oleh karena satu alasan yaitu Kemanfaatan.

Lalu apa arti semua ini bagi kami? Dan apakah ini muara dari segala yang kami lakukan dan tujuan akhir kami ? Tidak! Semangat mengedepankan kemandirian yang menjadi ujung tombak gerakan kami dan semangat konspirasi dalam mewujudkan project-project maslahat yang menjadi motor penggerak kami, ia ibarat bumi yang terus berevolusi, ibarat angin yang terus berhembus,ibarat matahari yang tak lelah untuk bersinar. Dan hukum alam itu juga berlaku bagi kami yang artinya jika hukum alam itu masih berlaku di semesta raya ini, maka kami pun seiring selangkah dalam detak kehidupan yang sama.

Kami tak ingin hanya sekedar menjadi generasi yang pasif,yang defensive terhadap pembaruan maslahat. Yang hanya pandai dalam orasi tapi berada di titik nadir aksi.Kami bukan generasi yang hanya mengharapkan eksistensi  semu tanpa meninggalkan karya-karya berarti.Kami ingin menjadi pelopor tak hanya pengekor. Kami ingin jadi menjadi generasi yang turut menciptakan sejarah tak hanya sekedar belajar dari sejarah.

Tantangan kami selanjutnya adalah bagaimana dalam “kesakauan” , kami tidak terlena dan terjebak dalam jebakan-jebakan perasaan superior sesat dan sempit yang membuat kami enggan untuk membumi dan membumikan hati kami.Tidak membuat kami tinggi hati hingga lupa dari mana kami berasal dan semangat apa yang mendasari kami.Tidak ada keabadian dalam niat yang terkotori,dan kalaupun ada, ia abadi untuk menjadi bahan cemooh. Kami tak ingin meninggalkan di belakang kami semangat kekerdilan jiwa dalam ingatan-ingatan buruk tentang kami. Aku pun menyadari bahwa wacana tanpa eksekusi sesungguhnya adalah kehampaan.

Saat Refleksi di akhir LPJ,sama-sama kami mencoba untuk merasakan semangat itu. Dalam Genggaman tangan dan dalam mata terpejam. Kata orang yang kini juga telah menjadi kataku, genggaman bisa lebih jujur dari kata-kata, seperti halnya cahaya misterius dari mata yang memiliki daya magis mengisyaratkan yang lebih eksplisit dari sekedar lisan. Kawan ,Orientasi awal akan menentukan seberapa lama kita bertahan, seberapa jauh kita melangkah, dan seberapa teguh kita untuk tidak meyerah. Dan aku ( bisa jadi kami ) merasakan Genggaman itu makin keras. Ada disana, di genggaman itu, di sore itu, di aliran yang menenangkan, di Ubadari. Ikrar itu menguat lagi.Kawan, kami siap untuk menerbangkan mimpi lagi dan mengejarnya. Menjadi pemimpi dengan mimpi-mimpi yang  akan di kejar dan enggan hanya sekedar menjadi tuan diantara orang-orang yang nihil mimpi. Dan menyadur kata Rumi  satu dari beberapa orang yang  menginspirasiku “ Hush… dengarlah hatimu,,, kita, lebih dari segala kata”. Ya,  benar Propos kompostifa, kita telah pernah buktikan itu dan akan lagi membuktikan itu, “ kita lebih dari kata”.

Oktober 06,2016

SHW 🙂

KomposTIFA

 

STOP SMOKING

rokok

STOP SMOKING !!!!!

      Ya… mungkin ini adalah sebuah jargon yang sering kita dengar. Rokok sudah menjadi masalah yang sangat urgen di kalangan warga kita.  Ada masalah yang lebih penting jika hanya berbicara tentang untung dan rugi dari barang tersebut. Beberapa hari lalu, ketika mengikuti liqo, sempat saya dan teman-teman liqo bicara masalah rokok. Dari sini saya tergugah untuk sedikit memberikan tulisan.

      Kalau bicara rokok, mungkin kita akan menggunakan banyak dalil untuk mengharamkan dan menghalalkannnya. Mari kita tinggalkan pembahasan tentang halal dan haramnya. Alangkah lebih bagus kalau kita memandang masalah ini dari kacamata yang berbeda. Sebagai seorang tenaga pendidik, saya akan mengajak teman-teman untuk melihat hal ini dari sudut pandang matematika.

      Penduduk Indonesia yang berjumlah 200 juta jiwa, 50% adalah pria. Anggaplah Jumlah Pria adalah 100 juta jiwa. 50% nya adalah perokok aktif atau sebut saja 50 jutanya adalah perokok. Mari kita kalkulasikan besarnya uang yang di keluarkan oleh masyarakat kita dalam satu hari hanya untuk sebungkus rokok. Namun sebelum itu, saya kasi rumusnya dulu neh. Jumlah perokok aktif X harga sebungkus rokok. Gampangkan rumusnya.oke lanjut yuk !!!!

50.000.000 X 10.000 = 500.000.000.000. 50 juta di atas adalah jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan 10 ribu adalah harga sebungkus rokok.Jadi satu hari, masyarakat Indonesia  mengeluarkan dana atau membuang uang sebesar 500 milyar rupiah per hari hanya untuk sebungkus rokok

.      Mari kita hitung juga jika 500 milyar ini di kalikan dengan 1 bulan. 500.000.000.000 X 30 = 15.000.000.000.000 (banyak sekali 0 nya ). Sudah berapa milyar tuh ??? Kalau tidak salah 1500 triliun.Mohon dikoreksi kalau salah.Maklum banyak banget nol nya. He….he….!!!

     Bayangkan teman-teman, dalam 1 bulan kita menghabisakan 1500 triliun hanya untuk sebungkus rokok saja. bagaimana kalau dalam 1 tahun. 15.000.000.000.000 X 12 =180.000.000.000.000. Dalam satu tahun negara kehilangan 18.000 triliun. Luar biasa teman-teman sekalin, dalam satu tahun kita mengeluarkan uang sebanyak 18.000 triliun rupiah hanya untuk rokok saja. Mari kita liat utang Indonesia. Berdasarkan data dari liputan6.com, utang Indonesia sudah mencapai 3271,82 triliun per maret 2016. Wouw, dengan 18.000 triliun rupiah utang Indonesia bisa lunas dalam jangka waktu tidak sampai satu tahun.

      Anggaplah ini pemikiran orang awam gengs, seandainya uang yang kita keuarkan ini kita simpan dan setiap tahun kita setor untuk membayar utang Indonesia,maka kita tidak perlu negara untuk membayar utangnya. Cukup masyarakatnya yang turun tangan. Dan jika 18.000 triliun ini kita sudah gunakan untuk membayar utang Indonesia, masih ada sisa banyak untuk kita gunakan kepada hal-hal lainnya. Misalnya dengan 18.000 triliun, semua jalan raya bisa masuk ke desa. Dengan 18.000 triliun setiap warga Negara Indonesia bisa mempunyai satu apartemen. Dengan 18.000 triliun, setiap anak bangsa bisa melanjutkan sekolah sampai S3 dengan gratis.

Luar biasa bukan gengs ???

      Penjelasan di atas berbicara mengenai masalah Nasional. Nah mari kita berbicara mengenai daerah yang kita cintai. Fakfak !!! yap, kita berbicara masalah Fakfak tentunya. Fakfak memiliki pendudukan sekitar 60.000 jiwa ( sensus tahun 2010). Anggap saja 50 % adalah pria atau sekitar 30.000 jiwa. 50 % adalah perokok aktif, sebut saja 15.000 jiwa.

Mari kita kalkulasikan.

     15.000 X 10.000 = 150.000.0000. Jadi sehari saja masyarakat Fakfak mengeluarkan uang sebesar 150.000.000 untuk sebungkus rokok. Nah bagaiamana jika sebulan??? 150.000.000 X 30 = Rp. 4.500.000.000. kalau setahun ?? teman-teman hitung aja sendiri. Setahun sekitar 54.000.000.000 ( 50 milyar lebih ) kita megeluarkan uang.

     Bayangkan teman-teman. Dengan uang ini kita, setiap sekolah di fakfak dari kota sampung ke kampong bisa kita buat tingkat 5. Jalan masuk ke desa bisa di beton. Bahkan bisa di jembatan penghubung yang menghubungi distrik Fakfak dan distrik Fakfak Tengah. Perlu teman-teman tau, data di atas masih menggunakan data lama.

Faktanya adalah:

  1. Penduduk Indonesia berjumlah 200 juta, ini adalah data yang saya ambil dari penggalan lagu Roma Irama yang di nyanyikan tahun 80an.artinya ini data tahun 80an.
  2. Harga sebatang rokok pun saya ambil yang termurah atau bisa di kelaskan dengan rokok gudang garam merah.bagaimana jika dengan rokok surya 1
  3. Data di atas hanya mengambil jumlah perokok aktif pria.dan belum di masukan perokok wanita.
  4. Dan yang paling penting, data di atas menggunakan satu bungkus rokok.bagaimana jika komsumsi rokok perhari adalah 2 bungkus.

   Dan yang terakhir mungkin ada bahasa, “merokok pake uang saya, kok kamu yang repot”. Oke, setidaknya jika tidak bisa stop merugikan diri kita sendiri, maka kita harus stop merugikan orang lain. Menjauh lah dari keluarga, sahabat, anak dan orang-orang di sekitar kita ketika merokok.

 September, 30,2016

Baqi Ar Rijal

Berbagi….

Bismillah…..

Hhhmmmm….”berbagi”???!!!!Berbagi adalah sebuah kata yang mudah untuk diucapkan akan tetapi sangat sulit untuk dibuktikan dengan perbuatan. Berbagi…bisa tentang apa saja. Bisa berbagi pengalaman, bisa berbagi barang, bisa berbagi cerita, bisa berbagi duit (yakin…nggak akan nyesal dikemudian hari???), bisa berbagi senyuman, bisa berbagi kebahagiaan dan juga bisa berbagi ilmu.

Guys, tau tidak, dengan berbagi seseorang tidak akan menjadi miskin atau berkurang dengan apa yang telah dibaginya. Selain mendapatkan pahala, berbagi dianjurkan dalam semua kepercayaan agama yang dianut oleh masyarakat Indonesia. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Muslim, “Sedekah tidaklah mengurangi harta“.Ya…harta kita memang berkurang akan tetapi kekurangan tadi akan ditutup oleh Allah swt dengan mendapatkan keberkahan pahala. Berbagi tidak perlu dengan barang yang mewah atau wah! Berbagi hanya perlu satu hal penting, yaitu ikhlas. Tanpa ikhlas, berbagi itu tak ada gunanya bahkan terkesan sia-sia.

Apakah dalam hati anda telah ikhlas ketika berbagi ke sesama manusia? Dan apakah kita termasuk dalam orang-orang yang ikhlas tersebut? Tentu jawabannya hanya kita dan Tuhan  saja yang tau. Sampaikan walau itu hanya satu ayat. Semoga apa telah saya tulis pada halaman ini bisa mengingatkan kembali para pembaca agar selalu berbagi dengan orang-orang di sekitar anda dengan ikhlas.

Wassalam…..

September, 23, 2016

S. Alie

BERLIBUR DAN BERILMU

Hari libur telah tiba…!! Bukan hal yang terjadi untuk mungkin menjadi nyata tapi itulah hari yang sangat dinantikan untuk semua manusia agar bisa mereka pergunakan untuk beristirahat, berkumpul bareng keluarga, sanak saudara dan teman-teman kerja.

Beristirahat di rumah? Mungkin tak cukup banyak yang hanya beristirahat menghabiskan hari liburannya hanya dirumah saja, karena itu akan menimbulkan rasa jenuh yang cukup tapi tak apalah mungkin dengan begitu mereka lebih menikmatinya dari pada harus keluar rumah tanpa arah dan tujuan.

Berkumpul bareng? Mungkin ini adalah cara lain untuk sedikit menghapuskan kejenuhan yang hanya dari pada di rumah saja. Berkumpul bareng bertemu keluarga, sanak saudara dan teman-teman adalah saat yang tepat untuk menikmati hari libur itu tiba, bisa temu kangen bersama keluarga, saudara dan teman-teman dan ini merupakan salah satu cara yang ampuh untuk mempererat silaturahmi bersama mereka, bisa merasa lebih dekat, merasa saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya tanpa memandang mereka kaya atau miskin, punya pekerjaan atau tidak, apalagi punya penghasilan atau tidak yang jelas marilah kita berkumpul dan bercerita tentang bagaimana menikmati hidup ini yang berujung bahagia. Bahagia yang benar-benar merdeka dari bahagia hanya dengan saling beribadah lewat senyuman dengan mereka karena masih bisa dipertemukan disaat berkumpul bersama.

Berlibur? Yap…kalau ini bukan hanya Anda, tapi saya juga menjadikan ini sebagai pilihan saya untuk menikmati betapa indahnya hidup ini. Berlibur… iya… berlibur saja tak ada yang melarang entah kemanapun Anda pergi asalkan Anda harus ingat pulang sebelum waktu libur itu usai 😉 😉 kalau tidak tepat waktu… yah sudahlah, cukup Anda saja yang tau sambil tersenyum apa yang akan terjadi. Hahahaaaa… 😉 😉

Bagaimana cara Anda menikmati waktu liburan Anda? Apakah hanya pergi ke tempat-tempat rekreasi sambil duduk dan berjemur menghabiskan waktu disana? Bermain bola atau bermain pasir? Mandi air laut? Atau yang paling dahsyat saat ini dengan kemajuan teknologi adalah foto-foto selphy sampai batre Anda lowbath bahkan sampai tenggelam kedalam air laut? Ehehee… terserah Anda yang penting Anda menikmatinya semua dan sekali lagi tak ada yang melarang atau membatasi cara kalian menikmati waktu liburan Anda.

Namun menurut saya ini pilihan BERLIBUR, BERKREASI, BERILMU yang akan kami gabungkan dalam satu gerakan yang kami beri nama KEMAH BHAKTI. Yoi…saya termasuk salah satu anggota yang tergabung bersama salah satu komunitas yang punya kepedulian tingkat sosial yang cukup tinggi. *komposTIFA (Komunitas Muda Positif Fakfak) Alhamdulillah… Kampung Pasir Putih menjadi lokasi perdana kami mengadakan kegiatan ini, walau hanya sekali tapi maknanya berkali-kali. Kami mengajak, memberi, belajar, dan berbagi bersama mereka. Mengajak mereka bermain tersenyum lepas tanpa beban seakan-akan mereka lupa bahwa mereka beribadah dengan senyum manis mereka yang kami terima dengan senyuman indah yang menggambarkan kebanggaan tersendiri karena kami hadir di tengah keraguan mereka yang awalnya tidak mengetahui siapa kami. Mereka bebas berekspresi walau sedikit malu-malau karena mereka masih sangat muda untuk berbicara dan berbagi tentang kepribadian mereka itu sangat kami terima karena yang terpenting adalah mereka mau bicara dan tak perlu takut untuk salah. Hati saya menjadi berdebar dalam menikmati liburan yang seperti ini. Kapan lagi waktu kita bisa mengenal mereka, menggenggam tangan mereka, menatap mata mereka yang masih banyak harapan dengan impian cita-cita mereka, melihat mereka terus tersenyum dalam kondisi apapun. Pada keadaan seperti itu saya harus bertanya kepada diri saya sendiri, kenapa dahulu kami tak pernah menjumpai hal yang seperti itu? Bagi saya yah sudahlah itu sudah berlalu, tapi yang belum berlalu saat ini adalah bagaimana kita bisa hadir di tengah-tengah mereka menemani sedikit kesepian mereka disaat hari libur itu tiba, yang tadinya mereka sendiri kini mereka menjadi ramai dan keramaian itu tak akan sia-sia tapi akan kita kenang bersama karena sesungguhnya apa yang manusia cari didunia ini akan berujung pada KEBAHAGIAAN. Sudahkan Anda berbagi kebahagiaan? Jangan sampai katakan TIDAK, karena senyuman yang tidak sengaja Anda berikan itu sudah cukup membuat orang yang melihatnya merasakan kebahagiaan yang luar biasa karena senyum itu adalah ibadah yang nyata yang kami saksikan secara natural dari diri Anda. Manfaatkan waktu dan kesempatan Anda jika itu adalah jalan yang terbaik yang harus dilakukan dengan segera…!! Saya tak minta banyak dari Anda, tapi masih bisakah saya meminta Anda untuk tetap tersenyum. TERIMA KASIH… Tersenyumlah kepada mereka dalam kondisi apapun serta Tersenyumlah kepada Sang Pencipta Alam Semesta betapa bersyukurnya kami masih dipertemukan sampai saat ini dalam sebuah gerakan-gerakan positif. Salam Positivers…!! komposTIFA, Be The Best!

unnamed

Kemah Bhakti komposTIFA Part 1, Kampung Pasir Putih 

Fakfak, 16 September 2016

Ardi Rahman Ena (@Ardi_Rahman21)